“Tapi urusan dunia juga harus selesai Du. Biar gak kepikiran pas ketemu (Tuhan).”
“Coba kamu ke rumah Laras, ketemu orang tuanya, tapi PR-mu belum selesai. Apa kamu nyaman ngomong dengan beliau.”

“Iya sudah,” Badu selalu kalah debat dengan Umi-nya. Mungkin itu salah satu alasannya menyukai acara debat di televisi.
Mau tak mau mereka harus menyisir seluruh rumah. Umi sedari pagi memang sudah meratai daerah kekuasaannya itu. Dari mulai bebersih rumah, mencuci, dan menyiram kebun depan dan belakang dan lain sebagainya. Memang makhluk Tuhan yang bernama wanita itu seakan diciptakan lengkap. Beserta dengan keindahan parasnya. Mereka bisa menjelma ibu yang mengurus anak-anaknya. Berubah menjadi kekasih bila bersanding dengan suaminya. Dan kadang bertingkah layaknya anak kecil bila sedang ingin dimanja. Itu tak bisa dimungkiri. Mereka diciptakan sempurna dan juga sebagai penyempurna dunia. Bisa menjadi berbagai hal yang dibutuhkan.
Ashar surah hampir surup. Tinggal beberapa menit lagi. Dan tasbih itu masih belum menampakkan diri. Di mana sebenarnya wujudnya berada. Tak lama ada yang mengetuk pintu. Ternyata seorang tetangga datang dengan membawa buah tangan dari desa. Umi menjamunya sebentar, sekadar ingin menyuguhkan minum dan bercakap. Sedang Badu dengan gigihnya tak berhenti mencari. Sampai letih pikirnya mencari satu barang kecil warisan bapaknya itu.
Dengan menyandarkan badan di kursi, setelah sang tetangga pergi, sekilas dia memandang Umi-nya yang sedang membereskan bekas minuman mereka. Tangan Umi yang sedikit menggenggam sembari mengangkat nampan membuat ujung alis Badu mengkerut. Dia akhirnya membuntuti ibunya itu ke dapur.
“Umi…”
“Iya? Sudah ketemu tasbih Umi?”
“Sebentar,” Badu menangkap satu tang Umi-nya.
“Ini apa?”
“Masyaallah!!”
