Buku ini adalah pemberian guru saya, Bapak Mahwi Air Tawar. Buku yang saya dapatkan sesaat setelah saya menerbitkan puisi-puisi saya di website kompas.id.
Sebagai murid yang juga memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap dunia puisi, saya menyambutnya dengan hangat. Membuka lembaran demi lembaran buku untuk saya baca dan dalami maknanya. Buku yang beliau berikan, tak lain untuk membentuk dan menempa saya menjadi “penyair yang baik dan benar.”

Taufiq Ismail, penyair religius yang familiar bagi saya semasa SMA. Hingga kini, saya masih baru saja membaca karya-karya puisinya yang luar biasa. Lewat buku ini, Prof. Suminto A. Sayuti memberikan gambaran yang gamblang terhadap kepenyairan seorang Taufiq Ismail beserta karya-karya hebatnya.
Buku ini merupakan bagian kelima dari enam bagian lainnya. Dalam rangka memperingati usia Taufiq Ismail yang ke-90, beberapa sastrawan mendedikasikan berjilid-jilid buku untuk mengenang sang maestro.
Buku ini terbagi menjadi tujuh bab. Bab pertama pendahuluan, tiga bab berikutnya mengulas tema-tema puisi yang ditulis Taufiq Ismail, dan dua bab lainnya mengulas latar belakang akademik dan sosialnya.
Siapa sangka seorang Taufiq Ismail yang mulanya merupakan dokter hewan pada akhirnya mendedikasikan diri untuk dunia kesusastraan Indonesia. Karya-karya kalibernya tentu lahir dari kecintaannya pada buku-buku sastra.
Sejak duduk di bangku siswa, ia menulis puisi dan mempublikasikannya di majalah. Dan karya karya puisinya yang sarat dengan nilai religius, tentu dipengaruhi oleh lingkungannya, dari rahim agama yang kuat pada lingkungan santri.
Saat duduk di bangku SMA kelas 3, ia berkesempatan mengenyam pendidikan ke Amerika Serikat, karena memperoleh beasiswa AFSIS (American Field Service International Scholarship). Dari kehidupannya di sana—yang pada saat itu bekerja di ladang peternakan — ia memiliki sebuah pemikiran untuk menghidupkan cita-cita kesusastraannya melalui sebuah profesi. Karena tak mungkin seorang penulis hanya mengandalkan karyanya semata. Akhirnya ketika ia kembali ke tanah air, dipaksa kedua orang tuanya untuk menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor.
Keberhasilannya sebagai sang maestro dalam dunia kesusastraan dan menjadi sastrawan Angkatan’66 tentu mengalami pasang surut. Diawali ketika ia mengembangkan bisnis peternakan, Taufiq belum kunjung berhasil yang akhirnya banyak meluangkan waktu untuk membaca dan menulis, sehingga ia berhasil menjadi sang maestro seperti sekarang ini.
Ia juga aktif dalam organisasi-organisasi sosial politik yang menuntunnya pada deretan sejarah sastra Indonesia. Ia merupakan salah stau pendiri Dewan Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuqi, serta Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang sekarang dikenal dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Taufiq Ismail juga memperkenalkan puisinya secara luas dengan membacakan karya-karya puisinya pada khalayak, dalam negeri maupun lintas benua. Dari track record beliau —yang di sini mungkin tak saya sebutkan semuanya — sehingga mengantarkannya untuk mendapatkan anugerah doktor pendidikan sastra.
Bagi Taufiq Ismail, puisi adalah nyanyian, cinta, bagian dari keimanan, media pengungkapan perasaan, cara mengecam kezaliman, pun sebagai cara berdoa pada Sang Pencipta. Dari pembukaan puisinya saja “Dengan Puisi, Aku” saya sudah dibuat terkagum dan jatuh cinta dengan diksi dan puisinya, mengantarkan saya pada hakikat seorang penyair menuliskan puisi untuk tujuan yang mulia. Tak hanya sebagai kepentingan personal individual, melainkan bersifat sosial sebagai media menyuarakan keadilan.
Saya baru menyadari bahwa tulisan puisi Taufiq Ismail tidak melulu berbicara tentang relgiusitas, melainkan suara pada kaum minoritas dan penyuaraan terhadap keadilan yang dikebiri. Sehingga membuat saya semain yakin dengan jalan kepenyairan yang saya pilih dan tempuh, sebagai pemegang estafet hirah beliau, meski masih berjalan perlahan dari start.
Puisi-puisi Taufiq Ismail seringkali merekam peristiwa-peristiwa sejarah, termasuk di dalamnya yang mengecam kekuasaan tiran, menyatakan keberpihakan pada kaum tertindas dan rakyat jelata, serta memberikan kritik pada sistem demokrasi. Hal ini sebagaimana antologi puisinya yang termaktub dalam Tirani dan Benteng maupun MAJOI (Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia). Adakalanya sebagian tema lainnya berisi panjatan doa, gerakan antinarkoba, serta satu hal yang membuat saya terangguk-angguk, bahwa ternyata beliau juga menulis puisi untuk anak-anak.
Awalnya, puisi-puisi yang ditulis Taufiq Ismail hanya sebuah catatan yang hanya disimpan dan menjadi dokumen pribadi. Namun atas saran dan permintaan kawan-kawannya, maka puisi-puisinya diterbitkan dan dipublikasikan secara luas.
Puisi yang telah disodorkan kepada pembaca pada akhirnya menjadi netral, ia berhak ditafsirkan siapapun dengan cara bagaimanapun. Di sinilah kunci sebuah puisi yang baik, yang sanggup membangun komunikasi dengan pembacanya. Maka dari itu, seorang penyair yang menuliskan puisi tidak mungkin ditorehkan dalam keadaan yang kosong. Salah satunya, puisi Taufiq Ismail yang berjudul “ Bayi Bulan Mei 1998” puisi yang menggambarkan krisis moneter 1998, di mana persoalan utang Indonesia sangatlah berat, bahkan warga negaranya sejak dinipun telah menanggungnya. “Dengarkan itu ada bayi mengeja di rumah tetangga//Suaranya keras, menangis berhiba-hiba//Begitu lahir ditating tangan bidannya//Belum kering darah dan air ketubannya//Langsung dia memikul hutang di bahunya//…”
Ada juga satu puisi yang begitu menggelitik bagi saya, padat tapi sangat menohok. Sebuah puisi yang menggambarkan sebuah protes terhadap rezim Orde Baru. Berikut berjudul “Takut ’66 Takut ’98; Mahasiswa takut pada dosen//Dosen takut pada dekan//Dekan takut pada rektor//Rektor takut pada menteri//Menteri takut pada presiden//Presiden takut pada mahasiswa.
Banyak catatan-catatan penting yang saya dapatkan dalam proses membaca dan menyelami lautan makna buku ini. Saya belajar dari ungkapan Prof. Suminto bahwa puisi yang baik —sebagaimana dicontohkan Taufiq Ismail—adalah yang memiliki landasan imaji pada realitas empiris. Kenapa didasarkan pada realitas? Karena karya seorang penyair yang memiliki kedekatan dengan hakikat kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, puisi dapat pula dikatakan sebagai suara jiwa sebuah zaman.
Dan karya sastra yang baik haruslah memiliki akar dan sumber yang jelas, yaitu hidup dan kehidupan itu sendiri. Karena seorang pengarang bukan hanya sebagai seorang imitator melainkan melakukan reflekis dan interpretasi terhadap kehidupan di zamannya sehingga dituliskan dalam diksi terbaiknya. Pada akhirnya, pengarang seperti inilah yang akan menjadi pengarang yang besar.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih kepada Panitia 90 Tahun Taufiq Ismail, yang sudah mengadakan buku jilid kelima ini dengan luar biasa, sehingga penyair pemula seperti saya bisa banyak mengambil pelajaran di dalamnya.
Satu hal yang tetap saya ingat sepanjang membaca beberapa ulasan beberapa sastrawan, termasuk kumpulan esai pada Haul Sastrawan maupun buku ini, ”Pada gilirannya karya sastra yang baik niscaya akan mempertinggi kesadaran religius pembacanya.”
Dan saya masih mengusahakan karya yang dimaksud.
