Tersebab Rindu

“Saya cuma ingin mengatakan kata maaf kepada Hisyam, selama ini saya baru berani menampakkan diri di sini. Sekarang saya sangat senang dan berterima kasih sekali kepada Kiai dan keluarga sudah sudi menerima, mengasuh, dan membimbing anak … saya,” perempuan itu melanjutkan perkataannya tadi.

Setelah selesai mengungkapkan isi hatinya, perempuan yang disebut sebagai ibunya Hisyam itu memeluk Hisyam yang dari tadi menunduk, duduk di sebelahnya. Hisyam pun menyambutnya, tak tahan air mata Hisyam juga menetes. Kiai Rasyid dan istrinya pun terharu melihat pemandangan anak dan ibu saling melepas rindu yang mendalam selama enam tahun terakhir.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jadi selama ini ternyata ibumu menjadi TKW di Arab Saudi, Syam. Baru tahun inilah beliau bisa pulang ke Indonesia. Nah, pertanyaanmu selama ini sudah terjawabkan, ke mana ibumu selama ini? Sedangkan bapak kandungmu sudah meninggal sejak kamu masih bayi, Bapak pun baru tahu tadi, ketika ibumu bercerita panjang lebar sebelum kamu ke sini,” jelas Kiai Rasyid.

“Nggih, Yai.”
***
Sembilan tahun lalu di malam yang dingin sekitar jam tiga pagi, Bu Rita, istri Kiai Rasyid menemukan bayi di depan rumah mereka. Bayi itu terbungkus kain bedong khusus bayi, dilapisi kain panjang di dalam ember besar. Dilihatnya ada selembar kertas putih.

“Tolong dirawat dan dibimbing bayi ini, namanya Hisyam Abdullah. Ayahnya baru saja meninggal, sedangkan ekonomi saya sedang sulit sekali. Keluarga yang lain tak ada yang mau menerima saya dan anak saya. Saya berjanji akan kembali ke sini. Terima kasih banyak. Ibunya Hisyam.”

Begitu pesan singkat yang tertulis di kertas itu. Merasa tak percaya, perempuan itu kembali membacanya pelan-pelan. Bu Rita pun terkejut dan menjerit setelah memastikan kebenaran tulisan tadi.

“Pak! Pak! Pak!”

“Ada apa, Buk, kok jerit-jerit malam-malam begini, nanti didengar para santri, lho,” ucap Kiai Rasyid.

“Ada bayi, Pak.” Perempuan itu menunjuk ke sebuah ember besar di hadapannya.

“Ya Allah, bayi siapa ini, Buk?”

“Tak tahu, Pak, di sini tak ada nama ibunya.” Bu Rita memberikan secarik kertas yang baru saja dia baca kepada suaminya.

Setelah sepasang suami istri itu berdiskusi, akhirnya bayi yang diberi nama Ahmad Hisyam itu dirawat dan diasuhnya. Hisyam kecil tumbuh menjadi anak yang patuh, ceria, dan penurut. Kiai Rasyid dan Bu Rita pun sudah menganggap Hisyam sebagai anaknya sendiri hingga tidak tega untuk memberitahu kenyataan yang sebenarnya. Namun, apa pun yang terjadi mereka harus menceritakannya saat Hisyam sudah masuk sekolah dasar.

“Bapak, lagi berbohong, kan?”

“Semua yang barusan bapak ceritakan itu betul, Nak, kamu yang sabar, ya. Ibumu yang asli berjanji suatu saat nanti akan menjemputmu. Kita berdoa saja semoga itu memang benar dan ibumu segera ke sini,” ucap Kiai Rasyid.

Tinggalkan Balasan