Tertipu Pencuri yang Lihai

Sosok itu adalah seorang lelaki yang memakai masker dan berpeci putih. Ia tampak batuk-batuk saat para pemuda mengepungnya. Lelaki itu menggendong anaknya yang bersarung dan berpeci hitam. Entahlah, apa yang dilakukan lelaki itu bersama anaknya di tengah malam seperti ini.

“Mohon maaf, Pak. Bapak hendak kemana malam-malam begini?” tanya Sodek dengan sopan. Ia merasa bersalah sebab mengepung orang yang masih belum tentu bersalah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Oh tak apa, Nak. Bapak habis dari desa sebelah. antar anak sunatan,” jawabnya tak kalah sopan.

Entah untuk apa bapak itu mengantar anaknya sunatan di malam hari. Dan untuk apa ia bermasker. Beni yang masih curiga, juga melemparkan sebuah pertanyaan pada lelaki itu. “Kenapa Bapak memakai masker?”

Lelaki itu terdiam sejenak. Kemudian dengan batuk-batuknya, ia menjawab, “Oh Bapak lagi sakit, Nak. Makanya Bapak mengantar anak sunatan di malam hari. Soalnya kalau siang takut digunjing tetangga. Biasalah, Nak, tetangga suka menggunjing yang macam-macam.”

Para pemuda itu jadi amat sangat merasa bersalah. Mereka terpengaruh dengan jawaban dan rautan memelas yang diberikan lelaki itu. Mereka pun membuka jalan, membiarkan lelaki itu lewat dengan tetap menggendong anaknya.

Lelaki itu menundukkan kepala sejenak. Ia pun pergi dengan langkah berat dan terseok-seok. Para pemuda mengiba. Dalam pikiran mereka, sungguh malang nasib lelaki itu yang memperjuangkan sunatan anaknya meski sudah sakit-sakitan.

Setelah tak berselang lama mereka merenungi nasib lelaki itu, si penggendong anak itu pun lenyap di telah malam. Kembali mereka meronda. Mereka melupakan perihal kambing yang mengembik, bahkan mereka bersikap seperti tidak apa-apa. Walau sebenarnya, ada perihal yang dirasa ganjil pada lelaki itu.

***

Esoknya, kala fajar menyingsing, ayam jantan berkokok bersamaan dengan teriakan histeris Pak Jamal di pagi buta. Ia panik, kala melihat kambingnya lenyap dari kandangnya. Ia berteriak “malinggggg!” walau sudah terlambat.

Orang-orang kampung berdatangan mengerumuni Pak Jamal. Mereka datang untuk turut berduka cita. Mereka bilang sabar, seolah Pak Jamal akan bersabar. Kambing itu adalah kambing satu-satunya miliknya. Kambing yang memang dikhususkan untuk mengakikahkan anaknya. Dan kini, harapan itu lenyap serupa lenyapnya kambingnya.

Para pemuda yang meronda tersentak kala mendengar kabar hilangnya kambing Pak Jamal tadi malam. Kini mereka benar-benar saling menyalahkan hingga bercekcok mulut. Pikiran mereka dihantui oleh lelaki yang mereka temui tadi malam. Lelaki yang menggendong anaknya yang baru sunatan. Mereka masih setengah tak percaya akan dugaannya. Mereka benar-benar ditipu dengan mata terbuka tadi malam. Ya, lelaki itu adalah pencurinya. Dan anak yang digendongnya bukanlah anak. Yang dibilang anak itu adalah kambing Pak Jamal yang diberi sarung dan peci hitam untuk mengelabui mereka. Ah, penyesalan memang selalu ada di akhir.

Tinggalkan Balasan