Armstrong juga membahas tentang pentingnya kontekstualisasi teks suci. Dalam tradisi Islam, ini bisa dilihat melalui disiplin ilmu tafsir yang berkembang untuk memahami dan menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan konteks historis dan sosial di mana ayat-ayat tersebut diwahyukan.
Ulama-ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, dan yang lainnya telah menghasilkan karya-karya monumental yang membantu umat Islam memahami konteks dan makna yang lebih dalam dari teks-teks Al-Qur’an.

Pentingnya kontekstualisasi juga terlihat dalam perkembangan ilmu fikih, yang berfungsi sebagai panduan hukum bagi umat Islam. Fikih adalah hasil dari interpretasi teks-teks suci yang berupaya menjawab tantangan zaman dan situasi yang dihadapi umat Islam. Ini menunjukkan bahwa teks-teks suci dalam Islam tidaklah statis, tetapi terus berkembang untuk tetap relevan dan bermanfaat bagi kehidupan umat.
Armstrong juga menekankan bahwa teks-teks suci harus dilihat dalam kerangka keseluruhan pengalaman manusia dan bukan sekadar kata-kata yang kaku. Dalam Islam, ini tercermin dalam pemahaman bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang komprehensif bagi kehidupan, mencakup aspek spiritual, moral, sosial, dan hukum. Ayat-ayat Al-Qur’an sering kali dibaca dalam konteks hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, yang memberikan contoh konkret tentang bagaimana ajaran-ajaran Al-Qur’an diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Armstrong menyoroti peran teks suci dalam membangun komunitas dan identitas keagamaan. Dalam Islam, ini bisa dilihat dalam konsep ummah, atau komunitas umat Islam yang bersatu oleh keyakinan dan praktik agama yang sama. Al-Qur’an berperan sebagai sumber utama ajaran dan panduan bagi ummah, membantu membentuk identitas kolektif dan memfasilitasi solidaritas di antara umat Islam di berbagai belahan dunia.
Armstrong juga memperingatkan tentang bahaya interpretasi teks suci yang kaku dan literalistis, yang dapat memicu konflik dan kekerasan. Dalam konteks Islam, tantangan ini dihadapi dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan inklusif dalam interpretasi teks.
Banyak ulama dan cendekiawan Islam menekankan pentingnya ijtihad, yaitu usaha intelektual untuk memahami dan menginterpretasikan ajaran Islam secara mendalam dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan umat Islam untuk menghadapi tantangan zaman modern dengan bijak tanpa kehilangan esensi ajaran agama mereka.
