“Tikungan Iblis” di Pestarama #10: Satir Politik dan Cermin Realitas Sosial Indonesia

Pementasan ini juga secara terang-terangan menyindir dinamika politik Indonesia saat ini. Menggambarkan kuasa dan ambisi yang sering dibungkus oleh penampilan elok dan janji manis. Melalui dialog-dialog satir dan simbolik, pementasan ini menelanjangi kemunafikan dalam politik, yang kelihatan suci bisa menyimpan dosa, dan yang tampak bijak ternyata sedang memanipulasi.

Contoh yang disebutkan dalam pementasan yakni dari isu-isu ekonomi yang digambarkan dalam adegan-adegan tertentu, harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, janji pembangunan yang tak kunjung merata, dan proyek-proyek besar yang justru memperkaya segelintir elite. Kemiskinan digambarkan sebagai korban yang terseret arus, bingung oleh jargon-jargon politik, dan hanya bisa berharap pada janji yang terus diulang tapi tak ditepati.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Cak Nun yang menulis naskah Tikungan Iblis memang merupakan salah satu penulis paling produktif pada masanya, dengan karya-karya yang laris di pasaran karena mampu menyajikan isu-isu aktual dan kontekstual secara tajam, khususnya dalam ranah sosial-politik dan pemiskinan kebudayaan. Cak Nun sebagai budayawan yang mampu merepresentasikan sensibilitas generasi muda yang kritis, gemar melakukan protes, namun tetap religius.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pestarama #10, selain pementasan tiga drama utama Masyitoh, Tikungan Iblis, dan Iblis juga digelar sebuah pameran yang menampilkan karya sastra dari penulis, dokumentasi proses pelatihan mahasiswa selama mempersiapkan pementasan, dan kesan dan pesan untuk Pestarama #10. Pameran ini bertujuan menegaskan bahwa setiap pertunjukan teater lahir dari proses panjang yang bersifat intelektual dan kolaboratif, melibatkan pembacaan mendalam terhadap naskah, latihan yang konsisten, serta eksplorasi terhadap nilai-nilai budaya dan spiritual.

Tinggalkan Balasan