Tolak Badriyah (Bagian 4)

Mendengar pertanyaan ummi, suara tangisan santri putri itu bukannya reda tapi malah semakin nyaring.

“Loh, sudah-sudah… tidak apa-apa…,” umm masih berusaha menenangkan tangisan santri putri tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya melongok-longok ingin melihat wajah siapa di sana. Kerudung hitam polos dan seragam pondok membuat santri tersebut sulit dikenali. Biasanya saya paham dengan baju-baju milik santri putri. Tetapi kalau pakai seragam begitu, tentu sulit membedakan punya siapa dan siapa. Suaranya sih seperti suara Badriyah. Tolak, maksud saya. Tapi ngapain Tolak ke sini pagi-pagi buta begini. Dia bukan santri ndalem yang suka bantu-bantu masak atau bersih-bersih.

Santri putri itu sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Ummi berusaha menenangkannya sekali lagi dan memintanya untuk bangun. Dengan isyarat tangan, ummi meminta Mbak Imah untuk pergi. Setelah Mbak Imah pamit undur diri, ummi menoleh ke arah saya. Meminta saya untuk pergi juga. Saat itulah saya melihat santri putri itu mengangkat wajahnya. Lah, benar si Tolak!

Tinggalkan Balasan