“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Al An’am: 101).
“Suram/ Sebuah bukit/ Terbentuk dari satu batu/ Oleh tangan beku”. Dari kalimat puisi ini ada semacam makna paradoksal terkait dengan kalimat “hakikat Tuhan” sebelumnya. Dan memang ya. Bentuk makna pada bait ini adalah reduksi dari kenyataan yang ada. Bahwa dalam bentuk aslinya, alam dan segala isinya telah diciptakan oleh Tuhan dengan segala keindahannya. Keseimbangan ciptaan yang membentuk kesinambungan kehidupan. Namun pada selanjutnya, manusia dengan segala keserakahannya, berbuat di luar batas dan menjadikan alam sebagai pelampiasan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Alam pun rusak, porak poranda oleh angkara manusia itu sendiri.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar Rum: 41).
“Sebuah bukit”, adalah suatu penyebutan satu objek untuk mewakili objek-objek yang lain. Penyebutan satu hal untuk sebuah makna keumuman yang lainnya (majas part-prototo). “Terbentuk dari satu batu”, mengingatkan saya pada sebuah ayat, “waja’alna minal maa’i kulla syaiin hay; dan Kami jadikan segala sesuatu dari air (suatu) kehidupan”. Terbentuk dari satu batu, kemudian akan tercipta batu-batu yang lainnya. Pada akhirnya, bukit-bukit itu pun tercipta untuk kelangsungan kehidupan dan kemakmuran manusia.
“Oleh tangan beku”, yaitu tangan manusia yang rakus (tangan besi), sehingga tangan-tangan tamak ini membangun sebuah nilai “apes” untuk kehidupan generasi berikutnya. “Tangan beku” telah menjelma menjadi monster yang akan membalik nilai manusia menjadi nafsu “binatang.” Na’udzu billah!
“Sebuah/ Monolith/ Lingga”, sebuah penggalan kata yang mempunyai makna kesatuan. Enjambemen untuk sebuah maksud yang diutamakan. Penegas maksud dan makna akan nilai sebuah pernyataan puitik. Jika diparafrasekan akan terbentuk sebuah kalimat utuh:
“Itulah (sebuah monolith), yaitu sebuah (lingga) yang merupakan wujud dari hakikat Kuasa Tuhan.”
Monolith dan lingga, sebuah sinonim yang mempunyai arti tugu.
“God!” adalah kata puncak dari pencapaian hakikat makna ketuhanan. God adalah kata dari Bahasa Inggris yang artinya Allah (Tuhan). Kata ini telah mewakili hakikat Tuhan yang tersurat maupun tersirat di dalam puisi Subagio ini. Maka, sebagai puncak hakikat makna, Tuhan adalah segala ke-MAHA-an untuk sebuah alusi kekuasaan. Tidak ada yang lebih kuasa, kecuali Kuasa Tuhan. Jelas sudah bahwa puisi Monolith ini membangun makna hakikat ketuhanan. Wallahu A’lam!
