Tutur Tinular: Pendidikan Karakter Lewat Lisan di Nusantara

Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Majapahit dan Sriwijaya, pengetahuan dan nilai-nilai etika tidak hanya ditulis dalam kitab, tapi juga disampaikan membentuk kidung, tembang, cerita rakyat, babad, dan serat seperti Serat Rama, Serat Centhini, dan Babad Tanah Jawi dulunya dibacakan atau didongengkan secara lisan dalam forum-forum sosial maupun ritual adat.

Filosofi dasar tutur tinular adalah bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk diresapi dan diwariskan. Cerita-cerita ini tidak hanya menyampaikan fakta, tapi membentuk rasa—rasa empati, rasa hormat, rasa tanggung jawab sebagai manusia yang hidup dalam tatanan sosial dan spiritual. Berbeda dengan cara menghafal dalam sistem pendidikan modern, tutur tinular mengajak manusia mengalami makna secara batin, membangun ingatan emosional yang dalam, dan secara tidak langsung membentuk karakter.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Laporan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tahun 2022, menyatakan bahwa tradisi tutur tinular di Indonesia menghadapi risiko kepunahan karena tidak banyak yang mendokumentasikan dan meneruskan secara aktif. Meski begitu, laporan yang sama mencatat adanya inisiatif dari komunitas adat untuk melakukan pemulihan terhadap cerita-cerita lama, baik melalui pendidikan, seni pertunjukkan, maupun media digital.

Meski zaman telah berubah, esensi tutur tinular makin diperlukan. Dari sopan santun dalam berbicara, kemampuan mendengarkan, hingga kepekaan terhadap sesama. Lewat cerita, seseorang tidak hanya diberi tahu apa yang benar, tapi diajak merasakan mengapa itu benar. Cerita-cerita rakyat, legenda, hingga kisah hidup tokoh lokal bisa menjadi sarana pendidikan karakter yang alami dan membumi.

Kuncinya bukan pada bentuknya, melainkan pada nilai yang disampaikan. Tutur tinular bisa dituturkan di ruang kelas, panggung seni, ruang keluarga, hingga ruang digital. Yang penting pesan moralnya tetap kuat: tentang kejujuran, keteguhan hati, tolong-menolong, kesetiaan, dan hormat kepada yang lebih tua.

Dalam konteks pendidikan hari ini, terutama pendidikan karakter yang menjadi salah satu fokus nasional, tutur tinular dapat menjadi pendekatan kultural yang sesuai dengan akar bangsa. Ia tidak menggantikan metode formal, tapi memperkaya dan menghangatkannya.

Warisan lisan tutur tinular adalah warisan yang hidup, dan untuk melestarikannya adalah peran bersama. Selama masih ada yang bersedia menyampaikan, mendengarkan, dan mewariskan. Namun, agar tetap bertahan dan relevan, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Tinggalkan Balasan