Perubahan juga harus datang dari komunitas santri yang alih-alih hanya menyemangati “Ayok ngaji dulu sebelum praktik!” Kenapa tidak tambahkan narasi: “Ngaji itu bukan sekadar khatam, tapi pahami dalil dan konteksnya!” atau “Ilmu alat dulu, baru kitab selainnya?”
Pada akhirnya, agama bukanlah museum yang membeku. Ia adalah sungai yang mengalir—membawa hikmah masa lalu, menyaringnya dengan akal sehat, lalu menuangkannya ke realitas kekinian.

Kritik pada kitab kuning bukanlah pengkhianatan, tapi bentuk kecintaan yang tulus. Seperti pesan Qur’an yang pertama kali turun: “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Kata ‘bacalah’ di sini bukan sekadar melafalkan huruf, tapi merenungi, mengkritisi, dan menghidupkan makna.
Mari kita bersama menata ulang cara kita berinteraksi dengan kitab kuning. Sudah waktunya pesantren melahirkan generasi santri yang tak hanya hafal, tapi juga paham dan berani berpikir. Generasi yang menghormati warisan leluhur, tapi tak ragu membersihkannya dari debu zaman.
Sebab, kebanggaan sejati bukanlah pada teks yang dikhatamkan, tapi pada akal yang terus bertanya—seperti air yang mengalir, tak pernah berhenti mencari kebenaran, meski harus melawan arus kebiasaan.
“Sampaikanlah ilmu, walau satu ayat,” sabda Nabi. Tapi ilmu itu sendiri tak akan hidup tanpa pertanyaan yang mencerahkan.
Sumber foto: insansantri.com.
