Wanita Pembungkus Garam

Perempuan itu menunduk, melipat plastik garam lebih rapat dari biasanya.

“Buat apa menikah kalau tidak bisa melahirkan?” sahut yang lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kalimat-kalimat itu jatuh seperti butiran garam ke luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Ia tidak pernah membalas, tidak karena tidak punya jawaban, tetapi karena lelah menjelaskan hidupnya kepada orang yang hanya ingin menilai.

Setiap hari ia jalani sisa-sisa hidupnya  sebagai wanita pembungkus garam. Ia menutup telinganya rapat-rapat agar tiada perih perkataan orang lain menghinggap. Ia mulai bekerja lebih lama. Menambah jumlah bungkusan, mempercepat tangan, seolah jika ia cukup sibuk, hidup tak sempat memberikan jawaban. Namun tubuhnya mulai memberi tanda. Jari-jarinya sering perih, kulitnya pecah-pecah. Garam yang ia bungkus setiap hari seakan ingin masuk ke dalam tubuhnya, mengingatkannya bahwa rasa asin tidak bisa dihindari.

Pada suatu sore, mandor gudang berkata, “Mungkin kamu harus mengurangi jam kerja. Usia kamu sudah tidak muda.”

Perempuan itu tersenyum kecil. Ia tahu, dalam kalimat itu tersembunyi makna lain: sebentar lagi, ia mungkin tidak lagi dibutuhkan. Perempuan itu memandang tumpukan piramida-piramida putih itu; ia sadar sepanjang hidupnya, ia terus membungkus rasa pahit agar terlihat rapi bagi orang lain. Ia membungkus luka, kehilangan, dan membungkus harapan yang mati perlahan.

Tinggalkan Balasan