WFH, Jam Kerja, dan Perbudakan Modern

Pada awalnya ini merupakan harapan baru. Namun ternyata, ada yang terlewat. Bahwa para pekerja ini baru terlepas dari beban kerja 8 jam, namun selama 24 jam tersebut bisa jadi sewaktu-waktu mereka harus segera berada di depan laptop menyelesaikan beberapa beban kerja.

Kaum digital nomad yang makin banyak di Bali mengaku bahwa perusahaannya telah menghitung biaya sewa kantor di New York lebih mahal daripada membiayai seluruh biaya hidup karyawannya selama berbulan-bulan hidup di Bali. Hal ini sempat disinggung oleh sebuah laporan jurnalistik bahwa justru jenis pekerjaan baru ini membuat perusahaan melepaskan tanggung jawab mereka untuk melindungi dan menjamin para pekerjanya ketika berada di ruang dan waktu yang (dianggap) tidak bisa dijangkau perusahaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para digital nomad belum memahami di mana letak kerugian dan pada titik mana perusahaan sesungguhnya sedang memeras mereka. Sementara tampilan luar mereka yang ngopi di café, mengetik di pinggir pantai dengan baju oblong sambil ketawa, tidak mengubah keadaan bahwa tampilan tersebut dalam rangka bekerja. Mereka memakai baju liburan meski otak mereka sedang bekerja secara maksimal demi perusahaan. Inikah masa depan pekerjaan generasi milenial?

Cara kerja yang sebenarnya sangat memeras ini bisa diperpanjang daftarnya seperti pekerjaan desain grafis, transportasi online, dan semua yang berbasiskan digital. Berbeda dengan perusahaan pra-digital yang memiliki beban untuk mengasuransikan aset dan pekerja mereka, memberi jaminan kesehatan pendidikan bahkan anak pekerjanya; sekarang bisnis digital mengalihkan beban itu pada para pekerjanya sendiri. Namun, sebagian orang melihat hal ini sebagai kemajuan.

Kemajuan?

Tiga bulan yang lalu, kita masih hidup dengan standar dunia; bekerja 8 jam, membeli semua kebutuhan bukan membuatnya sendiri, liburan pada waktu yang sudah ditentukan, bertemu orang asing dengan mudah, bepergian ke berbagai negara dengan pesawat dan hitungan jam melebihi rekor ikan paus sebagai satu-satunya mamalia yang mengelilingi dunia.

Tiga bulan lalu Anda masih minum kopi dari brazil dengan merek Amerika, bersepatu dari Italia, duduk dengan gadget dari China, memakan nasi dari Thailand diterangi lampu dari Jepang dan memuji makanan dengan bahasa Prancis atas kenikmatan rempah-rempah dari negeri sendiri saat menonton film Korea!

Kini, semua sirna dan kita harus bekerja di rumah. Kita baru menyadari bahwa sebagian besar yang kita konsumsi adalah suatu komoditas yang tidak mampu kita buat sendiri. Kemampuan yang hilang itu adalah survival skill.

One Reply to “WFH, Jam Kerja, dan Perbudakan Modern”

Tinggalkan Balasan