Wirid ala Natuna

Yang lebih menarik adalah apresiasinya terhadap syair-syair melayu yang ia samakan dengan doa dan mantra. Secara rutin, mendendangkan syair-syair itu persis sesuai melafalkan sejumlah doa dan mantra bakda shalat isya’ dan entah mengapa, karya sastra yang diwiridkan kala itu adalah sebuah kisah narasi perjalanan panjang suatu dinasti yang disajikan dalam bentuk nadham (syair), berjudul Syair Juragan Budiman.

Secara naratif, syair itu menceritakan kisah perjalanan hidup sebuah keluarga sultan yang jatuh dari singgasananya karena serangan pihak luar dan bangkitnya kembali keturunannya untuk memimpin sebuah negeri. Dengan demikian, Syair Juragan Budiman hendak menempatkan jatuh-bangun sebuah dinasti sebagai putaran kehidupan atau perguliran roda takdir berputar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Syafii tak bisa mengelak, meski dalam hatinya yang terdalam acapkali terbesit kebimbangan, sebagamana kebimbangan umum orang Natuna: apakah jatuh-bangun itu sebagai komedi Tuhan atau tragedi kemanusiaan.

Surau berlatar Bukit Ranai di Natuna.

Mantra Perlawanan

Tinggalkan Balasan