Secara psikis, wudhu membantu kesehatan jiwa. Manfaat tersebut di antaranya, pertama, dapat mereduksi (mengurangi) rasa marah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan diciptakan dari api. Dan sesungguhnya api itu dipadamkan dengan air. Maka jika seseorang dari kalian sedang marah, maka berwudhulah.” (HR. Abu Daud).
Hadits tersebut memang termasuk dalam golongan hadits yang lemah (maudhu), namun beberapa penelitian membuktikan bahwa wudhu dapat mereduksi (mengurangi) rasa marah, karena ketika marah pembuluh darah kita menyempit dan menyebabkan tekanan darah semakin tinggi. Air adalah sesuatu yang bagus untuk merelaksasikan pembuluh darah tersebut agar kembali membesar dan tekanan darah normal kembali (Syarif Hidayatullah, 2014).
Kedua, wudhu dapat membantu pikiran berkonsentrasi dan menenangkan jiwa. Saat berwudhu, kita diwajibkan mengusap kepala dengan air. Ini akan memberikan efek sejuk pada kepala kita, sehingga pikiran kita menjadi tenang. Dengan pikiran yang tenang, kita lebih mampu untuk mengkonsentrasikan pikiran kita. Para ahli syaraf (neurologist) telah membuktikan bahwa air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari tangan dan jari-jari kaki memiliki pengaruh untuk memantapkan konsentrasi (Muhammad Syafiie el-Bantanie, 2010).
Ketiga, wudhu dapat menghindarkan reaksi stres. Rehatta menyatakan bahwa wudhu yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusyu, tepat, ikhlas, dan kontinu dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping. Respons emosi positif (positive- thinking), dapat menghindarkan reaksi stres (Imam Musbikin, 2009). Wudhu bisa menjadi sarana cooling down (menurunkan temperatur) dalam setiap jangka waktu aktivitas yang memunculkan eskalasi (peningkatan) stres (Oan Hasanuddin, 2007).
Keempat, wudhu memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang “bersih” dan sewaktu-waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan, seperti mendirikan salat atau membaca mushaf al-Quran (Syarif Hidayatullah, 2014).
