Kedua, mabar atau makan bareng dalam satu nampan. Makan bareng bersama sekian banyak santri dalam satu nampan yang sama memang menimbulkan keseruan tersendiri. Di pondok pesantren, mabar seperti ini sesungguhnya hal yang biasa.
Puncak keseruannya saat terjadi “adu cepat” melahap nasi dan mengambil lauk agar perut kita lekas kenyang. Sebab, jika kita lamban menyuap nasi dan mengambil lauk, makanan keburu habis perut kita tidak kenyang. Mabar seperti ini akan menjadi salah satu kenangan terindah yang sering dirindukan saat seorang santri sudah lama tidak berada di dalam pondok.

Santri Hiburan Kiai
Tak hanya monopoli santri. Ternyata, kiai, pengurus pondok, atau para guru juga sering merindukan para santri yang sudah lama tidak berada di pesantren atau sudah lulus. Mereka biasanya mengungkapkan hal-hal dirinduan kepada para santri ketika para santri sedang sowan dan silaturrahmi ke rumah kiai atau ke pondok.
Biasanya kerinduan itu sering diungkapkan oleh pengurus pondok dan para kiai saat menyampaikan nasihat kepada santrinya yang telah lulus. Misalnya, pertama, rindu saat mengajar atau memberi pengajian. Salah satu contohnya yang diungkapkan oleh salah satu pengurus Pondok Pesantren Al-Awwabin di Depok, Jawa Barat.
Selama pandemi Covid-19 yang sudah hamper setahun berjalan ini, beliau mengungkapkan kerinduannya saat mengajar ngaji kepada para santrinya. Mengapa demikian? Sebab, kiai dan pengurus pondok merasa terhibur ketika sedang mengajarkan santrinya mengaji kitab kuning. Saat mengajar kitab kuning, seorang kiai atau guru secara langsung dapat melibatkan perasaannya kepada santrinya.
