Yang Ditangisi Nek Asna Tiap Idul Adha

“Kamu kan pasangan laki-laki, uangnya aku kasih pada Nak Asna, yang berhak memegang uang adalah perempuan,” ucap salah satu tetangga. Jekpar dan Asna hanya pasrah. Mereka sudah berkali-kali menjelaskan bahwa mereka tidak bertunangan. Tapi, tetangga itu tidak percaya, hanya tertawa.

Mendengar Jekpar berbicara seperti itu, Asna terdiam, ada rasa sakit yang menyundut-nyundut hantinya, ia kecewa pada Jekpar. Beberapa hari yang lalu, mereka sudah saling mengungkapkan perasaan bahwa mereka saling mencintai, bahkan masing-masing orang tuanya sudah tahu. Kedua orang tua mereka sudah mempunyai keinginan untuk menjodohkan mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tapi, semoga saja kita lekas bertunangan,” lanjut Jekpar lantas tertawa. Asna senang mendengarnya. Pipi Asna memerah.

“Kapan?”

“Bila sudah tiba waktunya,” jawab Jekpar sambil tertawa.

“Huft, dasar tidak pemberani!”

“Lihat saja nanti.”

Setelah lelah berkeliling ke rumah-rumah tetangga, Asna dan Jekpar duduk di atas lincak di depan rumah Asna.

“Mari ikut aku!” ajak Jekpar pada Asna setelah sedikit hilang rasa lelah keduanya.

“Ke mana?” tanya Asna, bingung.

Bukannya menjawab, Jekpar malah langsung menarik tangan Asna menuju rumahnya. Jekpar mengambil sebuah bibit tanaman di pekarangan rumahnya dan kemudian membawanya kembali ke rumah Asna. Asna hanya terdiam, bingung melihat apa yang dilakukan Jekpar.

“Tunggu di sini,” pinta Jekpar sambil meletakkan bibit tanaman itu.

Asna tak menjawab, hanya mengerutkan dahinya karena semakin bingung.

Jekpar datang dengan membawa cangkul. Jekpar memang sudah tahu betul tentang apa-apa yang ada di rumah Asna. Termasuk tempat cangkul milik ayah Asna.

Jekpar mulai menggali tanah, Asna yang sedari tadi nyerocos bertanya, Jekpar tak menjawabnya. Setelah membuat galian yang tidak terlalu dalam, mungkin 30 cm, Jekpar kemudian menanam bibit tanaman itu.

“Oh, mau nanam tanaman ternyata, membuat orang bingung saja!”

“Makanya, mikir, sudah tahu aku mengambil bibit dan cangkul, masing saja bengong, masak mau main petak umpet?!” jawab Jekpar sambil membersihakan tanah di tangannya.

“Terus, fungsi dan tujuannya?!”

Tinggalkan Balasan