Yasinan

Hening. Nek Halimah bergemuruh dadanya. Ia membuka mulut, hendak bersuara, tetapi lidahnya kelu. Tidak ada jawaban satu pun. Sumi mengangguk-angguk. Perempuan muda tertunduk takzim. Tidak ada yang berani menentang Darsih. Ucapannya serupa sabda. Siapa pun akan tunduk padanya. Entah, barangkali karena ia istri Ustaz Amar, orang-orang jadi segan padanya.

Darsih menjamu para jemaah dengan beberapa jenis penganan. Nek Halimah tak makan apa pun. Masih kesal batinnya. Beberapa kali ditawari, Nek Halimah hanya sekali menyesap teh yang sudah dingin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Malam Jumat berikutnya, kegiatan yasinan tetap berjalan. Ibu-ibu duduk bersimpuh membuat lingkaran dan bersiap membuka kitabnya masing-masing. Kali ini Nek Halimah tidak hanya membawa kitab dan tongkat yang biasa digunakan untuk membantunya berjalan. Dirinya juga membawa kacamata minus yang dibeli usai menjual sekarung gabah. Dengan begitu, dirinya dapat membaca tulisan dengan jelas tanpa takut tertinggal, harapnya.

“Audzubillahi minasyaitani rajiim. Bismillahir rahmanir rahiim ….”

“Aamiin.”

“Yaasiin. Wal Qur’aanil hakiim ….” Jemaah mengikuti imam Yasin.

“Litundzira qaumam maa undzira abaa uhum fahum ghaafiluun.” Sepersekian detik kemudian.

Nek Halimah membereskan kitabnya. Kacamata dilepas, dilipat lagi, lalu dimasukkan ke dalam kotak. Ia mengangkat rok gamisnya lalu terdoyok-doyok menuju pintu keluar. Mencari-cari sendal tidak ketemu, ia mengumpat, lantas memakai sekenanya—entah milik siapa. Nek Halimah berjalan pulang dengan langkah gegas. Malam Jumat kali ini ia meneruskan yasinan di rumahnya, sendirian.

Pacitan, Januari 2022.

One Reply to “Yasinan”

  1. Ping-balik: Yasinan - FinKafi

Tinggalkan Balasan