Sumenep, 2022.
297 KILOMETER

Aku tak pernah belajar menghitung jarak
Padamu, bahkan pada Tuhan sekalipun
Sebab, debar di dadaku tak butuh hitungan itu
Ia begitu dekat, hingga tak ada ruang di tengahnya
Suaramu masih saja menjadi biru di kepala
Seluler setidaknya telah membasahi segenap kisah
Yang di rantingnya, tangkai puisi berwarna kelabu
Dan berdaun pirang, tempat tangis-tawaku berpulang
Jarak melumatkan pertemuan, pun melamatkan wajahmu
Kita bertutur segala hal, termasuk menceritakan pecundang yang kehujanan
Hanya untuk memulangkan rindu-rindu ini
pada tempatnya bertasbih, tidak lain di hatimu
Sumenep, 2022.
ilustrasi: kompas.com.
