Singkat cerita, saya langsung membuka form pendaftaran tersebut dan kemudian mengisinya, lalu saya kirimkan tanpa pikir panjang lagi. Setelah menunggu kurang lebih satu minggu, ada balasan dari admin, kemudian saya dimasukkan di grup whatsapp, karena nanti apabila tulisan kita dimuat, maka akan mendapat pemberitahuan melalui grup whatsapp.
Tulisan pertama yang saya kirim adalah sebuah cerpen dengan judul “Ustadku, Cintaku, Imamku” yang kemudian diubah judulnya menjadi “Ustad antara Niswa dan Najwa”. Dulu saya mengirimnya tidak melalui submit di akun kontributor, melainkan mengirimkan file kepada admin karena kendala jaringan di tempat tinggal saya, dan saya sendiri belum akrab dengan menu-menu di akun duniasantri.co.

Jujur, saya senang sekali ketika tulisan pertama yang saya kirim mendapat respons positif dan ditayangkan di situs duniasantri.co. Tidak lupa saya juga meng-share link tulisan saya agar dapat dibaca oleh banyak orang.
Sejak saat itu, saya semangat untuk terus menulis dan produktif berkarya. Saya mencoba mengirimkan cerpen, kemudian puisi dan opini, serta mengisi rubrik Santriway.
Bagi saya, duniasantri.co adalah sebuah pelita penolong. Menulis di situs ini bukanlah tentang uang atau honor yang berusaha saya kejar mati-matian. Namun, tentang ikhlasnya saya berkarya dan tetap produktif dalam menghasilkan karya yang bermanfaat serta dapat membantu dan memberikan referensi positif untuk kaum santri pada khusunya dan masyarakat pada umumnya. Menjadi kontributor di duniasantri.co menjadikan saya tetap mengingat betapa saya mempunyai mimpi untuk menjadi penulis, dan dengan tetap menulis di duniasantri.co menjadikan saya tetap semangat dalam berkarya.
