Literasi di duniasantri adalah literasi tanpa batas. Artinya, berbagai genre tulisan terwadahi di platform ini. Dari fiksi dan nonfiksi, dari Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Semua dapat disubmit di duniasantri.co.
Hal inilah yang kemudian menjadikan saya betah. Belum lagi para admin yang sangat humble, penuh perhatian, dan bersikap begitu dedikatif. Seringkali jejaring duniasantri (JDS) mengadakan silaturahmi meskipun secara virtual.

Beberapa hari setelah saya jadi kontributor di duniasantri.co, saya berkesempatan untuk ikut zoom meeting guna mempererat tali persaudaraan di antara para kontributor dan redaktur duniasantri. Saya harus berterima kasih yang tak berhingga atas dedikasi dan apresiasi selama ini hingga saya benar-benar merasa berada di rumah sendiri.
Ya, bagi saya, duniasantri adalah dunia saya sendiri. Dunia kita yang berkiprah (baik langsung maupun tidak langsung) dengan kepesantrenan. Saya bagaikan berada di istana yang penuh dengan mahligai kesantrian. Maka sangat wajar, sebagai alumni pesantren, berkiprah di duniasantri merupakan kebanggaan tersendiri. Saya ingin terus berada di sini, bahkan hingga masa yang tak terbatas. Hingga waktu kemudian yang tidak bersudah.
Hingga saat tulisan ini dibuat, Minggu, 8 Agustus 2021, saya sudah hampir satu tahun berada di duniasantri. Tepatnya satu tahun pada tanggal 7 September 2021 yang akan datang, persisnya 336 hari. Waktu yang tidak sedikit meskipun juga tidak terlalu lama. Saat ini saya dalam keadaan yang paling romansa di website duniasantri ini. Merasakan begitu indah untuk terus selalu dikenang sepanjang masa. Masa-masa nostalgia ini semoga berlangsung hingga batas waktu yang tidak terbatas.
Tulisan saya yang paling akhir dimuat (bukan yang terakhir, lho?) adalah “Bila Sastrawan Menghadapi Pandemi” pada tanggal 7 Agustus 2021. Hingga yang terakhir tersebut, tulisan saya sudah mencapai 157 naskah. Selain sebagai wadah dakwah dan silaturahmi, tidak ketinggalan juga finansial yang saya dapatkan. Tidak perlu saya ungkapkan di sini, cuan yang telah saya dapatkan. Tidak perlu. Karena hakikat berkarya adalah kebaikan, sedangkan kebaikan itu sendiri tanpa pamrih. Jika kemudian ada rupiah di balik kebaikan, itu adalah bonus atas sebuah kerja ikhlas. Saya berharap demikian.
Duniasantri adalah milik kita. Merupakan tanggung jawab kita (santri dan simpatisan) untuk mengibarkan bendera platform ini ke puncak langit yang paling tinggi. Oleh karena itu, mari kita berdaya upaya untuk terus berkiprah dalam duniasantri, dengan terus memberikan bantuan kemajuan, setidaknya dengan cara terus mengirimkan tulisan yang berkualitas.
