Setiap hari kita mendengar kabar kematian di kanal-kanal media dan televisi: orang-orang meninggal terpapar Covid-19. Rumah sakit kehabisan oksigen, juga kehabisan ruang karena pasien yang terpapar Covid-19 karena membeludak setiap harinya. Sudah ada 2,3 juta kasus masyarakat di Indonesia yang terpapar Covid-19, sebanyak 1,96 juta di antaranya sembuh, dan 61.868 meninggal dunia.
Namun, masyarakat kita ini masih saja bebal dan ngeyel dengan kebijakan pemerintah. Bahkan mereka berdalih bahwa Covid-19 adalah konspirasi demi kepentingan bisnis untuk menguras uang rakyat.

Marilah, saudara-saudaraku, kita lupakan dugaan-dugaan itu sebentar! Mari bersimpuh di hadapan Tuhan, berdoa agar wabah ini segera diangkat dari bumi.
Banyak ulama dan mubaligh menyalahgunakan kata “takwa” dan “yakin” sebagai “pembenar” untuk tidak mematuhi protokol kesehatan atau memakai masker, misalnya. Mereka memprovokasi ruang publik agar orang tidak perlu takut kepada wabah Covid-19. “Takutlah kepada Allah,” begitu kata mereka.
Padahal, sesungguhnya, takwa tidak bisa dijadikan sebagai tendensi kita untuk tidak mematuhi protokol kesehatan. Kita memang harus bertawakal kepada Allah, tapi harus paham dan mengikuti ketentuan syariat.
