“Pernahkah kau berpikir bagaimana rasanya jika hidup sebagai sampah? Maksudku, benar-benar sampah. Sampah plastik, kertas, botol, kaleng, daun atau sampah apapun. Pernahkah?” botol itu mulai bercerita kepada Abu.
“Aku dulu juga seorang manusia…,” botol itu memang ajaib. Tidak seperti botol-botol lain. Ia memiliki kemampuan untuk berbicara. Abu menemukan botol itu saat perjalanan pulang di sungai belakang tempat tinggalnya yang membentang membelah kota yang penuh dengan gedung-gedung nan menjulang seakan-akan ingin menyinggung langit itu.

Ketika itu Abu mendengar suara memanggilnya dari sungai. Abu mencari-cari dari mana sumber suara itu berasal. Ia melihat banyak sampah, banyak sekali, sungai itu bagaikan sungai sampah yang isinya semua sampah dan bukan air. Matanya menjelajahi tumpukan sampah itu. Akhirnya ia melihat sebuah botol yang terimpit di antara sampah-sampah berbagai rupa yang banyak sekali di pinggir sungai yang airnya pun tak mengalir saking banyaknya sampah. Ia perhatikan dengan saksama botol itu. Ternyata itulah botol yang mengeluarkan suara. Tanpa pikir panjang Abu langsung mengambil botol itu.
***
Semenjak hari ditemukannya botol itu, kehidupan Abu sedikit berubah. Ia yang biasanya setelah bekerja seharian di jalanan kota langsung istirahat di sebuah rumah kecil, sempit, kumuh, dan bau, yang bahkan tak layak disebut sebagai rumah dan dihuni pula oleh teman-teman sependeritaan dengannya, mendadak sering berkeluyuran sendirian dengan membawa botol itu. Ketika berada di rumah pun ia sering terlihat tertawa sendiri sambil menggenggam botol. Tentu saja hal itu membuat teman-temannya heran.
Ternyata si botol suka bercerita kepada Abu. Si botol meminta Abu mengajaknya melihat-lihat kota pada malam hari sembari menceritakan kisahnya. Kisah-kisah yang ia alami ketika masih menjadi manusia dahulu kala.
“Kau tahu kalau teman-temanku sesama sampah sering protes kepada kalian, para manusia?”
“Aku tidak tahu itu. Memangnya sampah bisa protes?”
“Tentu bisa. Namun, kami melakukan protes tidak dengan meneriakkan kekesalan di jalan-jalan sambil membawa kertas-kertas bertuliskan tuntutan-tuntutan. Ya, karena kami hanya sampah dan lagi pula tidak semua sampah bisa berbicara dengan bahasa manusia.”
“Lalu, sebenarnya apa yang kalian inginkan?”
“Kebersihan.”
“Kebersihan?”
“Ya. Kebersihan.”
“Apa maksudnya?”
“Kami tahu bahwa kami adalah sampah. Yang di mata manusia merupakan sesuatu yang kotor, bau, menjijikan, tidak berguna, tidak layak untuk dipandang, dan tidak diharapkan kehadirannya. Namun, mereka lupa bahwa mereka dulu sempat menggunakan kami. Membutuhkan kami. Maka dari itu kami protes.”
Botol itu berbicara dengan ketenangan yang aneh. Dan Abu yang ikut merasa aneh tetap berusaha tenang.
“Protes seperti apa yang kalian lakukan?”
“Tidak lama lagi kau akan melihatnya.”
Malam menampakkan gelapnya. Bulan berusaha menerangi, tetapi awan seolah tak mengizinkan cahaya jatuh ke kota itu.
***
Pagi baru saja merekah. Abu bersama si botol sudah siap untuk menyusuri jalanan kota. Saat berada di atas sebuah jembatan, si botol meminta Abu untuk berhenti dan melihat ke sungai di bawah jembatan itu. Itu adalah sungai yang sama di mana Abu menemukan si botol.
“Lihatlah. Teman-temanku sudah banyak yang berkumpul. Sungai inilah yang akan menjadi titik kumpul kami para sampah sebelum melakukan aksi untuk protes kepada manusia.”
“Semakin banyak saja temanmu.”
“Mereka datang dari seluruh penjuru kota. Mereka adalah sampah-sampah yang dicampakkan begitu saja oleh manusia yang tidak peduli kebersihan dan ketertiban.”
***
Abu selalu membawa botol itu ke mana-mana. Ia mengganggap botol itu adalah temannya yang berguna. Bisa membantu dan memang sangat membantu. Botol itu dapat dimasuki benda-benda seperti batu kerikil atau uang logam sehingga menimbulkan suara yang khas. Suara dari botol itulah yang mengiringi Abu bernyanyi dari lagu ke lagu, dari jalan yang satu ke jalan yang lain, dari perempatan ini hingga perempatan itu. Botol itu membuat Abu lebih riang menyusuri seluruh kota.
