Hikayat Botol

“Kau akan mengerti saat telah menjadi sampah.”

“Tapi aku tidak mau.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tapi itu sudah takdirmu. Sekarang kau bisa membuangku ke sungai di mana teman-temanku sekarang berada.”

Abu menurut kepada si botol. Ia melemparkan botol itu ke sungai yang sudah membeludak oleh sampah. Botol itu mengucapkan selamat tinggal. Abu lalu pergi ke tempat yang jauh. Meninggalkan kota itu, rumahnya, teman-temannya, Bang Rojali, dan tentunya si botol dengan diiringi hujan gerimis yang perlahan menjadi deras dan tak berhenti selama beberapa hari ke depan.

***

Sejak semalam hujan turun sangat deras di kota itu. Di luar kota hujan juga melanda. Abu masih memikirkan si botol. Botol itu dan sampah-sampah lainnya akan melakukan aksi protes terhadap manusia. Aksi protes seperti apa yang akan ia dan sampah-sampah lainnya lakukan, Abu bertanya-tanya.

Hari sudah siang namun matahari tidak tampak akibat awan hitam terus menutupi. Ia ingin kembali ke kota itu. Ia ingin bertemu dengan si botol. Namun, keinginannya ia tahan. Ia ingat pesan terakhir dari botol itu kepadanya.

“Kembalilah tiga hari setelah aku dan teman-temanku selesai dengan tugas kami.”

Abu pun sedia menunggu hingga tiga hari sambil menatap langit yang terus menjatuhkan air tanpa henti.

***

Di kota itu, bersama sampah-sampah seluruh kota, si botol melancarkan aksinya. Dengan bantuan air hujan dan air sungai dan air got yang meluap-luap menggenangi seluruh kota, para sampah menyebar ke seluruh kota, masuk ke rumah-rumah, kantor, apartemen, hotel, superblok, pasar, sambil membawa kotoran-kotoran manusia kepada manusia itu sendiri, membawa penyakit untuk manusia-manusia itu, dan tidak lupa menyeret kebencian mereka.

***

Tiga hari kemudian, Abu kembali. Ia lihat kotanya telah luluh-lantak, kotor, sangat menjijikan. Sampah-sampah berserakan di mana-mana. Orang-orang sibuk membersihkannya. Abu lalu mencoba mencari si botol. Walaupun sangat banyak botol-botol berserakan di mana-mana, Abu tidak akan lupa pada botol yang dapat bicara itu. Tidak akan ia salah mengenali.

Setelah mencari ke sana-sini, Abu menemukan si botol di sebuah selokan.

“Aku dan sampah-sampah telah selesai melaksanakan tugas. Namun, manusia tetap saja tidak akan sadar. Mereka tetap tidak mau mengerti. Banyak sampah-sampah telah dikumpulkan hanya untuk dibuang lagi kemana saja sesuka mereka. Kini kau yang akan melanjutkan perjuangan kami.”

Botol itu telah sangat reyot. Mungkin akibat benturan dengan benda-benda lainnya selama menjelajahi isi kota.

“Apakah ini saatnya aku menjadi sampah?” tanya Abu.

“Sebenarnya sudah sejak dulu kau menjadi sampah. Kehadiranmu tidak dianggap. Tidak dipedulikan. Kau seperti tidak ada gunanya eksis di dunia ini dalam pandangan manusia. Pernahkah kau berpikir tentang itu?”

“Benarkah?”

“Maka, kini saatnya kau menjadi sampah yang sesungguhnya.”

“Tapi aku belum siap.”

“Kau harus siap.”

“Apakah aku bisa menjadi sampah seperti yang kamu harapkan?”

“Pernahkah kau berpikir tentang bagaimana rasanya jika terlahir sebagai sampah? Maksudku, benar-benar sampah. Sampah plastik, kertas, botol, kaleng, daun atau sampah apapun. Pernahkah?” si botol bertanya, “Aku dulu juga seorang manusia, tapi aku menerima tugas ini. Tugas menjadi sampah. Tugas yang bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada manusia. Apakah kau pun akan menerimanya sekarang? Demi kebersihan di masa yang akan datang?”

“Jika demi kebersihan, aku siap menjadi sampah.”

Setelah itu, keajaiban pun terjadi.

Tinggalkan Balasan