***
Abu adalah anak yang berasal dari keluarga yang miskin. Setidaknya itu yang ia tahu. Ia tidak pernah merasakan sekolah karena orang tuanya telah meninggalkannya sejak kecil. Entah di mana orang tuanya sekarang ia tidak tahu. Mungkin telah meninggal karena keracunan makanan seperti kebanyakan orang-orang miskin lainnya. Bukankah makanan sehat dan bersih adalah sebuah kemewahan bagi orang miskin?

Sejak kecil Abu dirawat Bang Rojali. Merawat di sini artinya adalah sekadar memberikan tempat untuk tinggal dan cara untuk mencari uang.
Bang Rojali juga merawat anak-anak lain yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan Abu.
***
Senja tiba. Abu yang sudah seharian ini bersama botol itu keliling kota bergegas pulang. Seperti biasa, si botol akan bercerita kepada Abu.
“Pernahkah kau bertemu dengan manusia yang menyanyangi sampah?” tanya si botol.
“Sepertinya tidak,” jawab Abu.
“Aku dulu adalah manusia yang menyanyangi sampah.”
“Kamu menyanyangi sampah? Kasih sayang seperti apa yang kamu berikan?”
“Saat aku masih menjadi manusia, aku sehari-hari bekerja mengambil sampah-sampah yang berserakan. Entah yang ada di tong sampah, sungai, jalanan, selokan, di mana pun. Aku telah kenal dengan banyak sampah. Mereka semua mengeluh terhadap sikap manusia yang seenaknya memperlakukan mereka. Mereka tidak terima. Alam tidak akan menerima kesewenangan manusia. Alam akan membalas, mereka selalu berkata begitu.”
Hingga saat ini Abu masih belum tahu kenapa si botol yang dulunya adalah manusia bisa berubah menjadi seperti sekarang ini. Lagi pula Abu tidak pernah bersekolah, bagaimana mungkin ia akan bisa memikirkan hal-hal yang rumit seperti itu?
“Apakah kamu membenci manusia?” tanya Abu.
“Aku sudah membenci manusia sejak masih menjadi manusia.”
“Apakah kamu juga akan ikut membalas perlakuan manusia?”
“Tentu saja. Aku bersama teman-temanku akan bertindak sebagai penuntut manusia.”
“Kapan kamu dan teman-temanmu akan melakukannya?”
“Besok.”
“Besok?”
“Iya. Besok.”
“Apakah aku juga termasuk manusia yang kamu benci?”
Angin senja terasa dingin, menunjukkan kalau malam hari nanti akan turun hujan.
“Aku tidak membencimu. Namun, aku ingin malam ini kau meninggalkan kota ini. Tinggalkan pula aku bersama teman-temanku. Kau akan melanjutkan perjuangan kami para sampah.”
“Aku?”
“Iya. Setelah besok aku bersama teman-temanku melancarkan aksi tuntutan untuk manusia, kau akan berubah menjadi sampah.”
“Kenapa aku? Aku tidak mau menjadi sampah.”
