Saat ini, ada dua kutub superkuat yang menarik masyarakat: ikatan global dan ikatan primordial. Komunitas global disebabkan kemajuan teknologi informasi berupa internet. Dalam kasus umat Islam Indonesia, ini tidak hanya berkaitan dengan agama, tapi juga- yang paling parah – adalah getolnya gerakan Neo Pan Islamisme berupa gerakan khilafah atau daulah islamiyah ala ISIS.
Harakah primordial atas kesamaan agama di Indonesia juga bergeliat sejak awal Kemerdekaan. Gebrakan kelompok yang hendak mendirikan Negara Islam seperti Kartosuwiryo dan Kahar Muzakar, secara ideologis, terus berdengung di belantara negara ini dan bersatu padu dengan gerakan sejenis khilafah dan ISIS. Pertemuan dua kutub gerakan global dan primordial yang berasaskan kesamaan agama ini, secara ideologis dan sosial, hingga sekarang masih mengancam NKRI.

Menguatnya ikatan global dan primordial tersebut, kata Cornelis Lay dalam makalahnya yang berjudul Nasionalisme dan Negara Bangsa (2006), tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di banyak negara. Di Indonesia, sebagian masyarakat Indonesia tidak peduli dengan nasionalisme, bahkan ada yang ingin menjadi daerah merdeka berdasarkan primordialisme komunalnya, karena kecewa kepada negara
