Istri Ketiga

Hampir dua hari kau tampak murung. Tak ada cercah harapan yang bisa mengganti mendung di pikiranmu setelah dua hari lalu kau memutus pertalian sakral dengan istrimu. Sebenarnya, kau tidak mau melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh kayakinan di agamamu. Tetapi apalah daya, ketersiksaan yang kerap menjambangimu ketika lelap di ranjang anyar setiap malam setelah menikah, tak bisa kau tahan lagi. Maka, menalak istrimu yang baru kau sunting setengah bulan lalu harus kau ambil cepat-cepat.

Kehadiran istrimu yang pertama, sungguh di luar dugaan. Benar-benar jauh dari yang kau perkirakan. Kau tidak menyangka, bahwa istrimu yang pertama bakal membawa sial saat di atas ranjang pengantin. Bagaimana tidak, setiap kali terlelap, selalu istrimu mendengkur keras. Awal-awal, kau mencoba biasa, tetapi setelah tiga malam berturut-turut, kau mulai menceramahi istrimu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Coba kalau tidur jangan mendengkur,” pintamu tegas pada istrimu di amper rumah saat pagi tiba.

“Siapa yang mendengkur? Perasaan, aku tidak pernah mendengkur saat tidur,” istrimu mengelak.

Kau tahu betul, kalau yang diutarakan istrimu itu sedikitpun tidak benar. Tapi, kau tahu sendiri bahwa istrimu selalu mendengkur keras saat tidur. Dan kupingmu selalu terusik hingga membuatmu tak lelap.

“Perempuan kalau tidur mendengkur itu tidak wajar, tahu ‘kan?”

“Siapa yang mendengkur?”

“Kamu.”

“Aku? Mana mungkin aku mendengkur,” sambung istrimu mengelak lagi.

“Awas, kalau nanti malam masih mendengkur, kucerai kau!” ancammu dengan telunjuk mengarah pada wajah istrimu.

Kau sungguh tidak biasa tidur bersama orang yang mendengkur. Semenjak kecil, kau memang diajari untuk tidak mendengkur ketika tidur. Dan sampai sekarang, kau tak pernah mendengkur di waktu tidur. Terlebih ibumu yang paling tidak suka kalau tidur dengan orang yang mendengkur.

Akan tetapi, pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya tidak menyertaimu. Nasibmu tidak seberuntung ibumu. Suami ibumu, atau juga ayahmu, tidak mendengkur ketika tidur. Itu sebab mengapa tidurmu selalu nyenyak sampai pagi tiba. Hingga akhirnya—singkat cerita—ketenangan di waktu tidur musnah saat kau mempersunting perempuan desa tetangga, yang sudah kau cerai beberapa hari lalu.

Setelah perceraian itu, tidurmu kembali nyenyak, hanya kau sendiri, tidak ditemani siapa-siapa, kecuali bantal dan selimut. Hampir sepekan, kau merasa nyaman hidup sendiri, sampai di ujung tanduk waktu, kesepian mulai mengoyak ragamu. Ketika tidur, kau merasa tenang, hanya, kesepian terlalu menguasai ketenanganmu. Hingga sepi tak bisa kau tolak lagi. Dan berpikir keras untuk menikah lagi terpatri sangat di batok kepalamu.

Satu pekan lebih dua hari, kau mulai berencana untuk menikah lagi. Pagi-pagi sangat, kau sudah berada di rumah temanmu yang kau anggap banyak kenal dengan perempuan anak satu, yang janda tentunya.

Kau sengaja berangkat agak pagi, karena siapa tahu Gunung Himalaya di depan mata, melihat janda anak satu lari-lari kecil. Untuk hal itu, kau tidak begitu berharap sangat, hanya saja, bila bertemu, rugi kalau tidak menikmati tubuh sintalnya. Membayangkan saja, kau sudah tidak tahan untuk melihat segera.

“Nanti ada janda lewat depan rumah, dan namanya Rosali,” temanmu berujar setelah selesai mempersilakan kopi untuk diminum.

Pikiranmu berkelana jauh ke antah berantah, sesuatu yang jorok mulai terbesit dalam batok kepalamu. Jantungmu berdegub cepat setelah temanmu mununjuk perempuan sintal keluar dari rumahnya.

“Itu yang namanya Rosali.” Kau menoleh cepat takut terlambat dan keburu melihat.

Rosali memakai kaus biru muda ketat. Lekukan pinggul dan pinggangnya bergitu terukir jelas dan terekam sangat di retinamu. Sedikitpun kau tidak berkedip saat Rosali nyaris lurus dengan pintu rumah temanmu.

“Kok sendiri?” tanya temanmu setelah Rosali melirik manja.

Tinggalkan Balasan