Tafsir Hermeneutika Al-Qur’an dan Kontroversinya

Rasulullah ditugaskan untuk menyampaikan wahyu kepada umat-Nya. Tidak hanya sebagai pedoman bagi umat muslim saja, Al-Qur’an juga menjadi petunjuk seluruh umat manusia. Karena itu, cakupan isi Al-Qur’an merupakan petunjuk dari semua problematika kehidupan.

Beberapa tokoh agama memaknai Al-Qur’an sebagai ensiklopedia atau kamus pencerahan bagi perjalanan hidup manusia secara komprehensif. Dan di setiap zaman, penafsiran Al-Quran selalu digaungkan oleh para ulama dan mufasir. Hal itu dilakukan supaya persoalan kehidupan baik dari segi muamalah, akidah, dan syariat agama selalu terlingkup dalam Al-Qur’an.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun di era modern, dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, globalisasi informasi, kecanggihan teknologi, dan keluasan berpikir yang semakin dianggap bernilai, juga mempengaruhi keterbukaan dalam memahami teks Al-Qur’an, salah satunya metode menafsirkannya.

Tentu kita memahami bahwa dalam menafsirkan Al-Qur’an tak luput dari tradisi yang berkaitan dengan istilah tafsir dan takwil. Ulama klasik dan mujahid berpendapat bahwa arti kata tafsir menjelaskan “yang luar” (dhahir) dari Al-Qur’an. Adapun, takwil merujuk pada penjelasan makna dalam dan tersembunyi dari Al-Qur’an.

Menurut Nasr Hamid, dalam proses tafsir, seorang penafsir menggunakan linguistik dalam pengertiannya yang tradisional, yaitu merujuk pada riwayah. Artinya, peran penafsir dalam melakukan penafsiran hanya dalam kerangka mengenal sinyal-sinyal.

Sedangkan, dalam tawil (interpretasi), interpreter lebih dari sekadar mempergunakan apa yang dipergunakan dalam tafsir di atas. Takwil dalam pengertiannya yang baru menggunakan perangkat keilmuan yang lain dalam ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial untuk menguak makna teks yang lebih dalam.

One Reply to “Tafsir Hermeneutika Al-Qur’an dan Kontroversinya”

  1. Menurut pemahaman saya, kontroversi dalam berbagai hal adalah hal yang biasa. Senyampang tidak sampai terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita bermusuhan. Termasuk dalam hal ini, tafsir hermeneutika yang tentu saja melahirkan perbedaan pendapat. Bahkan, tafsir itu sendiri melahirkan perbedaan pandangan. Sehingga kita harus bijak dalam menyikapi perbedaan, tanpa harus bersikap skeptis terhadap lahirnya tafsir yang berdasarkan keilmuan. Hee,,, saporana….

Tinggalkan Balasan