Tafsir Hermeneutika Al-Qur’an dan Kontroversinya

Namun, di sisi lain, metode hermeneutika masih mengalami simpang siur oleh beberapa mufasir modern kontemporer. Hal ini dilihat dari jejak perkembangannya yang dianggap tidak relevan ketika dijadikan pijakan dalam menginterpretasikan Al-Qur’an.

Hermeneutika pada era klasik dikenal sebagai gerakan eksegesis di kalangan gereja, kemudian berkembang menjadi “filsafat penafsiran”. Menurut cendekiawan muslim yang kontra dengan metode hermeneutika, menganggap bahwa hermeneutika merupakan metode yang digunakan untuk menafsirkan kitab Bibel dan berasal dari tradisi Kristen. Tak jarang, kontroversi ini melahirkan perdebatan dan kritikan dalam studi Al-Qur’an di berbagai kalangan, seperti halnya hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ada beberapa konsep hermeneutika yang jika diaplikasikan ke dalam tafsir Al-Qur’an akan menimbulkan problem. Gagasan Schlleirmacher bahwa penafsir bisa lebih mengerti dan lebih baik dari pengarangnya, misalnya, sangat tidak tepat bila diterapkan dalam penafsiran Al-Qur’an. Begitupula dengan gagasan Dilthey yang menggambarkan bahwa pengarang tidak mempunyai otoritas atas makna teks, tapi sejarahlah yang menentukan maknanya.

Pendapat tersebut akan menemui kesulitan jika diterapkan dalam tafsir Al-Qur’an. Bagi para mufasir, Allah sebagai pengarang Al-Qur’an justru bisa mengubah sejarah. Bukan malah dipengaruhi oleh sejarah.

Karena itu, sebagian mufasir kontemporer yang kontra dengan pendekatan hermeneutika menegaskan bahwa dalam perspektif apapun, termasuk hermeneutika, dilarang menjadikan tafsir Al-Qur’an sebagai subjek bebas nilai yang menafikan nilai-nilai absolutisme dan eternalitas Al-Qur’an sebagai firman Allah.

Namun, di sisi lain, beberapa mufasir ketika menafsirkan Al-Qur’an dengan model penafsiran transformatif, tetap menggunakan pendekatan hermeneutika dengan mempertimbangkan prinsip prinsip dasar dalam memahami Al-Qur’an. Begitupun, pembahasan hermeneutika di setiap zaman tak akan ada habisnya. Bukan hanya golongan mufasir dari kalangan akademisi, hingga saat ini pun  studi Al-Qur’an dengan pendekatan hermeneutika masih eksis dan terus berkembang. Entah sampai kapan.

One Reply to “Tafsir Hermeneutika Al-Qur’an dan Kontroversinya”

  1. Menurut pemahaman saya, kontroversi dalam berbagai hal adalah hal yang biasa. Senyampang tidak sampai terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita bermusuhan. Termasuk dalam hal ini, tafsir hermeneutika yang tentu saja melahirkan perbedaan pendapat. Bahkan, tafsir itu sendiri melahirkan perbedaan pandangan. Sehingga kita harus bijak dalam menyikapi perbedaan, tanpa harus bersikap skeptis terhadap lahirnya tafsir yang berdasarkan keilmuan. Hee,,, saporana….

Tinggalkan Balasan