Hari Santri, 22 Oktober, adalah hari yang melampaui seremoni keagamaan semata. Ia adalah pengingat historis bahwa nasionalisme di tanah air ini “beraroma tembakau dan kibaran sarung”.
Kita tak boleh lupa, semangat kebangsaan ini lahir dari rahim pesantren, dimandati oleh Resolusi Jihad para kiai yang sadar betul: mempertahankan iman berarti mempertahankan tanah air. Santri adalah penjaga gawang pertama keindonesiaan, yang mengawali pertarungan bukan dengan tank atau senapan, melainkan dengan Bismillah dan tekad hubbul wathan minal iman—cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Lalu, apa makna warisan luhur ini bagi santri di era 2025?
