Krisis keberagamaan kita hari ini bukanlah krisis iman, melainkan krisis makna. Di tengah ramainya simbol, gelar, dan panggung religius, banyak orang justru merasa semakin jauh dari Tuhan. Agama hadir di mana-mana, tetapi ruhnya kerap sulit dirasakan. Yang sedang kita alami bukan kemunduran ajaran, melainkan pengeringan kesadaran.
Dalam khazanah budaya Nusantara, kegelisahan semacam ini pernah dimetaforkan melalui kisah Sabdo Palon. Ia dikisahkan akan kembali setelah lima ratus tahun, bukan untuk mendirikan kerajaan atau mengganti agama, melainkan untuk membangkitkan kembali apa yang disebut sebagai budhi atau kebijaksanaan batin yang menjaga keseimbangan antara laku lahir dan kesadaran ruhani. Terlepas dari perdebatan historisnya, kisah ini tidak perlu dibaca sebagai nubuat mistis, melainkan sebagai cermin budaya: peringatan tentang bahaya ketika agama direduksi menjadi identitas luar, bukan jalan pembentukan batin.

Refleksi ini bukan penolakan terhadap tradisi keagamaan, melainkan kritik atas kecenderungan kehilangan ruh di baliknya. Sebab gejala “kehilangan budhi” tampak jelas dalam kehidupan keislaman kontemporer. Di tingkat struktural, agama kerap terseret ke dalam logika kekuasaan dan kepentingan. Perdebatan otoritas, konflik legitimasi, dan dalih kemaslahatan sering membuat umat bertanya: ke mana arah perjuangan ini sebenarnya? Ketika agama terlalu sibuk mengurusi bentuk—jabatan, proyek, dan pengaruh—ada risiko besar bahwa nilai kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang justru tersisih.
