Sabdo Palon dan Krisis Makna Keberagamaan

Di tingkat masyarakat, gejala itu terasa lebih dekat. Sebagian simbol dan gelar keagamaan direduksi menjadi komoditas. Doa yang seharusnya menjadi bisikan paling intim antara hamba dan Tuhannya berubah menjadi layanan berbayar. Barokah diperlakukan seolah dapat dipindahkan melalui transaksi. Di ruang digital dan panggung publik, agama kerap tampil sebagai tontonan yang meriah, sementara ruang keheningan dan perenungan justru menyempit. Inilah wajah zaman yang terpikat pada bentuk, tetapi abai pada makna.

Ironisnya, di tengah melimpahnya ceramah, majelis pengajian, dan konten religius, banyak jiwa justru merasa hampa. Sebab yang dicari manusia bukan sekadar tontonan agama, melainkan makna yang menghidupkan. Ketika agama berhenti membentuk kesadaran moral dan hanya memproduksi simbol, di situlah kekeringan ruhani bermula.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Krisis budhi ini tidak berhenti pada wilayah ritual dan simbol. Ia berbuah nyata dalam cara kita memperlakukan sesama dan alam. Tragedi ekologis—banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan—bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin dari cara pandang yang kehilangan kebijaksanaan. Hutan dan tanah diperlakukan semata sebagai komoditas, bukan sebagai amanat kehidupan. Eksploitasi yang mengabaikan keseimbangan dan kearifan ekologis adalah bentuk lain dari keberagamaan yang terputus dari ruhnya. Merusak bumi, dalam kerangka ini, bukan hanya kesalahan teknis, tetapi juga pengingkaran spiritual.

Tinggalkan Balasan