Belakangan ini, saya beberapa kali mendengar santri membahas fenomena yang mereka sebut sebagai meril atau memet—istilah Gay dan Lesbian di beberapa lingkungan pesantren. Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah pesantren; ia sudah ada sejak lama, beroperasi di ruang-ruang yang tidak terlalu terang, dibicarakan sedikit, dan biasanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas diangkat ke publik. Namun yang berubah hari ini bukan fenomenanya, tetapi sikap sebagian santri dalam memperlakukannya.
Kini sebagian santri tidak hanya melakukannya secara diam-diam, tetapi juga membicarakannya dengan nada ringan. Dalam beberapa kasus, bahkan dengan kebanggaan kecil—seolah sedang berbicara tentang hobi yang lucu atau pengalaman unik yang layak dibagikan. Perubahan cara bicara ini menunjukkan adanya pergeseran logika yang lebih serius dibanding sekadar perilaku menyimpang.

Dalam tradisi pesantren, rasa malu memegang posisi penting sebagai mekanisme sosial yang menjaga etika. Ia bukan sekadar perasaan personal, tetapi salah satu pondasi harmoni sosial. Ketika sesuatu yang dulu dianggap tabu berubah menjadi bahan obrolan santai, itu menandakan bahwa pagar etika tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Kita sedang berhadapan dengan generasi yang lebih cepat menilai sesuatu dari seberapa menarik ia untuk diceritakan, bukan dari seberapa layak ia dilakukan atau dibicarakan.

Guru saya mengatakan, “Kambing saja gak sampai jeruk makan jeruk.” Wkwkwkkkk,,,,