Normalisasi dan Krisis Etika di Pesantren

Perubahan sikap ini mencerminkan budaya digital yang merembes ke pesantren. Di era ketika apa pun bisa menjadi konten, seseorang terdorong untuk menceritakan hal-hal yang seharusnya disimpan. Penyimpangan menjadi “pengalaman,” dan pengalaman menjadi sesuatu yang bisa dipentaskan. Dalam proses ini, nilai-nilai yang dulu menjadi patokan mulai kabur. Yang penting bukan lagi benar atau salah, tetapi apakah suatu cerita layak ditertawakan.

Logika seperti ini menunjukkan rusaknya struktur berpikir. Seseorang boleh saja melakukan kesalahan; itu manusiawi. Tetapi ketika kesalahan itu berubah menjadi cerita yang diangkat dengan bangga, kerusakan tidak hanya terjadi pada perilaku, tetapi juga pada cara seseorang memaknai perbuatannya. Normalisasi melalui cerita jauh lebih berbahaya daripada sekadar kesalahan yang dilakukan dalam kesunyian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Membicarakan fenomena ini semata-mata dari perspektif hukum akan membuat analisis menjadi datar. Hukum sudah jelas—haram, dan semua orang di pesantren mengetahuinya. Yang lebih penting untuk dibahas adalah cara sebagian santri menilai dan menarasikan fenomena itu. Di sinilah terlihat adanya krisis cara berpikir: penyimpangan tidak lagi dipahami dalam kerangka etika, tetapi dalam kerangka hiburan dan identitas.

One Reply to “Normalisasi dan Krisis Etika di Pesantren”

Tinggalkan Balasan