KH Saepuddin Zuhri, Sang Maestro Nahu Pasundan

Dari sekian banyaknya pondok pesantren yang ada di Indonesia, ada satu pondok pesantren yang mungkin tidak sepopuler Pondok Lirboyo, Ploso, ataupun Al-Anwar.  Namun, ia mampu melahirkan kader-kader ahli gramatika arab di tanah Pasundan. Ia adalah Pondok Pesantren Baitul Hikmah, yang didirikan oleh KH Saepuddin Zuhri yang lahir dari keluarga sederhana.

Saepudin Zuhri lahir di sebuah kampung kecil bernama Cikiangir, Dusun Cibalagbag, Desa Mandalaguna (dahulu Kawitan), Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lahir pada hari Jumat tanggal 12 Agustus 1938. Ia putra dari pasangan H Hudaeli dan Hj Sukmi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masa kecilnya dihabiskan dengan mengenyam pendidikan formal di daerah Salopa (1946-1952). Waktu itu, situasi belajar masih belum aman dikarenakan ancaman para penjajah yang sangat rentan sampai bisa berujung pembunuhan. Hal ini jugalah yang mengakibatkan orangtuanya khawatir dan segera memondokkan anaknya ke daerah Cilendek, Tasikmalaya.

Di sana, Saepuddin berguru kepada KH Baharun, seorang kiai yang sangat alim dan berkharisma. Setelah itu, ia berkenalan ke berbagai pondok pesantren lainnya untuk menimba ilmu. Pengelanaan itu juga merupakan perintah dari guru-gurunya.

Sedikitnya, Saepuddin pernah mondok di 10 pesantren, yaitu Pesantren Cibeuti Kawalu (selama 20 hari bersama KH Zaenal Muttaqin), Pesantren Cinangsi/Cikoneng (selama 10 bulan bersama KH Zakaria), Pesantren Ciharashas/Cibeureum (selama 1 tahun bersama KH Jaelani), Pesantren Cilendek (selama 8 tahun bersama KH Bahrum. Di sini ia menjadi lurah santri dan juga mengajar), Pesantren Keresek/Cibatu (selama 40 hari bersama KH Busyrol Karim), Pesantren Sumursari/Pasirjengkol (selama 2,5 jam bersama KH Muhidin), Pesantren Sagaranten (selama 1 malam 3 jam bersama KH Dimyati), Pesantren Sayuran/Cikajang (selama 3 minggu bersama KH Muhammad Nawawi),  Pesantren Sirnasari (selama 2 minggu),  dan Pesantren Riadul Alfiyah Sadang/Garut (bersama KH Raden Utsman).

Uniknya, dari banyaknya pondok pesantren yang pernah didatangi, bukan merupakan keinginan sendiri untuk berpindah-pindah, tapi semua itu atas saran dari para gurunya. Hal ini jugalah yang mungkin menjadi penyebab ilmunya sangat luas dan juga bermanfaat.

Seperti pada umumnya para penuntut ilmu, perjalanannya tidak selalu manis dan mulus. Selama menjadi santri, Kiai Saepuddin yang kerap kali merasakan keadaan yang pahit, terutama karena biaya dan bekal. Di kampung halamannya, orang tuanya sering mengalami masa paceklik. Keadaan ini sering menimbulkan lambatnya kiriman bekal untuk menyambung hidup sehari-hari.

Tinggalkan Balasan