“Pa’ Tani itoelah penolong negeri apabila keperloean menghendakinja dan di waktoe orang pentjari-tjari pertolongan,”
Demikian penggalan salah satu tulisan KH Hasyim Asy’ari yang bertajuk Kaoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani. Dalam karyanya yang dimuat di majalah Soeara Moeslimin Indonesia No. 2 Tahun II itu, Kiai Hasyim menasyrihkan peran dan jasa besar petani bagi kehidupan bangsa. Tidak tanggung-tanggung, beliau bahkan menyebut petani sebagai salah satu “sendi” yang menopang tegaknya negeri.

Di antara berbagai pengabdian sosial-keagamaannya, Kiai Hasyim rupanya juga menaruh perhatian serius pada kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat. Artikel beliau yang terbit di masa pendudukan Jepang (1944) itu berisi anjuran untuk memperbanyak hasil bumi, menyuburkan tanah, dan menegakkan keadilan.
Dalam situasi perang, ketika ketersediaan pangan sangat menentukan kelangsungan hidup, perhatian semacam itu mencerminkan kesadaran bahwa kemandirian masyarakat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya memajukan bangsanya. Di pengujung tulisanya, beliau merujuk Adabud Dunya wad Din karya al-Mawardi, yang menjelaskan enam penopang keteraturan tatanan kehidupan:
دِينٌ مُتَّبَعٌ وَسُلْطَانٌ قَاهِرٌ وَعَدْلٌ شَامِلٌ وَأَمْنٌ عَامٌّ وَخِصْبٌ دَائِمٌ وَأَمَلٌ فَسِيحٌ
Artinya: “Agama yang ditaati, kekuasaan yang berwibawa, keadilan yang menyeluruh, keamanan yang merata, kemakmuran yang berkelanjutan, serta harapan yang luas,”
Nyatanya, kesadaran itu tidak berhenti sebagai sebuah gagasan yang dituangkan melalui tulisan. Jauh sebelum seruan itu, beliau telah terlibat dalam sebuah gerakan ekonomi bersama para kiai dan saudagar.
Pada tahun 1918 beliau ikut serta dalam pendirian Nahdlatut Tujjar yang diprakarsai oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada perkembangannya, Nahdlatut Tujjar dikelola dalam bentuk perserikatan dagang atau koperasi bernama Sirkatul ‘Inan. Di dalam badan usaha itu Kiai Hasyim dipercaya sebagai ketua/pelindung.
Ikhtiar tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk semata-mata meningkatkan keuntungan perdagangan. Lebih jauh, hal itu merupakan manifestasi dari kepekaan sosial akan kedaulatan ekonomi sebagai salah satu penopang keberlangsungan pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial umat. Dan dalam cakupan yang lebih luas, kepedulian itu berjalin-kelindan dengan cita-cita bangsa untuk membangun kehidupan yang sejahtera, mandiri, dan berdaulat.
Maka, ketika Indonesia Emas diproyeksikan sebagai cita-cita luhur bangsa hari ini, salah satu fondasi pentingnya sejatinya telah dirintis Kiai Hasyim bersama para tokoh pesantren lebih dari seabad silam. Semboyan “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” yang diusung Kementerian Agama sebagai tema Hari Santri 2026 pada hakikatnya telah ditorehkan jejak pengamalannya dalam usaha kolektif kaum santri delapan dekade yang lalu: jauh sebelum jargon itu ada.
