Menyongsong Indonesia Emas dari Bilik Pesantren: Refleksi HSN 2026

“Pa’ Tani itoelah penolong negeri apabila keperloean menghendakinja dan di waktoe orang pentjari-tjari pertolongan,”

Demikian penggalan salah satu tulisan KH Hasyim Asy’ari yang bertajuk Kaoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani. Dalam karyanya yang dimuat di majalah Soeara Moeslimin Indonesia No. 2 Tahun II itu, Kiai Hasyim menasyrihkan peran dan jasa besar petani bagi kehidupan bangsa. Tidak tanggung-tanggung, beliau bahkan menyebut petani sebagai salah satu “sendi” yang menopang tegaknya negeri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di antara berbagai pengabdian sosial-keagamaannya, Kiai Hasyim rupanya juga menaruh perhatian serius pada kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat. Artikel beliau yang terbit di masa pendudukan Jepang (1944) itu berisi anjuran untuk memperbanyak hasil bumi, menyuburkan tanah, dan menegakkan keadilan.

Dalam situasi perang, ketika ketersediaan pangan sangat menentukan kelangsungan hidup, perhatian semacam itu mencerminkan kesadaran bahwa kemandirian masyarakat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya memajukan bangsanya. Di pengujung tulisanya, beliau merujuk Adabud Dunya wad Din karya al-Mawardi, yang menjelaskan enam penopang keteraturan tatanan kehidupan:

دِينٌ مُتَّبَعٌ وَسُلْطَانٌ قَاهِرٌ وَعَدْلٌ شَامِلٌ وَأَمْنٌ عَامٌّ وَخِصْبٌ دَائِمٌ وَأَمَلٌ فَسِيحٌ

Artinya: “Agama yang ditaati, kekuasaan yang berwibawa, keadilan yang menyeluruh, keamanan yang merata, kemakmuran yang berkelanjutan, serta harapan yang luas,”

Nyatanya, kesadaran itu tidak berhenti sebagai sebuah gagasan yang dituangkan melalui tulisan. Jauh sebelum seruan itu, beliau telah terlibat dalam sebuah gerakan ekonomi bersama para kiai dan saudagar.

Pada tahun 1918 beliau ikut serta dalam pendirian Nahdlatut Tujjar yang diprakarsai oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada perkembangannya, Nahdlatut Tujjar dikelola dalam bentuk perserikatan dagang atau koperasi bernama Sirkatul ‘Inan. Di dalam badan usaha itu Kiai Hasyim dipercaya sebagai ketua/pelindung.

Ikhtiar tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk semata-mata meningkatkan keuntungan perdagangan. Lebih jauh, hal itu merupakan manifestasi dari kepekaan sosial akan kedaulatan ekonomi sebagai salah satu penopang keberlangsungan pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial umat. Dan dalam cakupan yang lebih luas, kepedulian itu berjalin-kelindan dengan cita-cita bangsa untuk membangun kehidupan yang sejahtera, mandiri, dan berdaulat.

Maka, ketika Indonesia Emas diproyeksikan sebagai cita-cita luhur bangsa hari ini, salah satu fondasi pentingnya sejatinya telah dirintis Kiai Hasyim bersama para tokoh pesantren lebih dari seabad silam. Semboyan “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” yang diusung Kementerian Agama sebagai tema Hari Santri 2026 pada hakikatnya telah ditorehkan jejak pengamalannya dalam usaha kolektif kaum santri delapan dekade yang lalu: jauh sebelum jargon itu ada.

Melalui tema itu, Kementerian Agama menempatkan kemandirian ekonomi sebagai salah satu bentuk kontribusi santri, berdampingan dengan penguatan sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepedulian sosial.

Pada tataran kebijakan, pemerintah pun telah mengembangkan program inkubasi bisnis pesantren. Sepanjang 2021–2025, sebanyak 4.185 pesantren dilaporkan menerima pengembangan usaha. Kementerian Agama bahkan mengagendakan Expo Kemandirian Pesantren dalam rangkaian Hari Santri tahun ini untuk memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan.

Namun, jumlah bantuan dan banyaknya unit usaha belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa kemandirian telah terwujud. Ukuran keberhasilan ekonomi pesantren semestinya tidak berhenti pada banyaknya produk yang dipamerkan atau papan unit usaha yang terpampang. Lebih dari itu, kemandirian ekonomi juga menyangkut kemampuan pesantren mempertahankan kebebasannya dalam menentukan sikap dan arah pengabdian. Lembaga yang terlalu bergantung pada bantuan pihak lain berhadapan dengan risiko bahwa keberlangsungannya turut dipengaruhi kepentingan pemberi bantuan.

Tentu saja, menerima bantuan tidak dengan sendirinya menghilangkan independensi. Namun, semakin kuat sumber penghidupan yang dimiliki, semakin besar pula ruang bagi pesantren untuk menjaga prioritas dan memelihara kebebasan bersikap.

Hal itu disinggung oleh Ibn al-Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in ketika membahas pentingnya kecukupan bagi seorang alim. Iia menukil sikap Sufyan al-Tsauri yang menghimpun sebagian hartanya agar tidak mudah diperalat orang lain. Ibn al-Qayyim kemudian menulis:

فَالْعَالِمُ إِذَا مُنِحَ غِنَاءً فَقَدْ أُعِينَ عَلَى تَنْفِيذِ عِلْمِهِ، وَإِذَا احْتَاجَ إِلَى النَّاسِ فَقَدْ مَاتَ عِلْمُهُ وَهُوَ يَنْظُرُ

Artinya: “Seorang alim yang dianugerahi kecukupan finansial akan memperoleh penopang untuk menjalankan ilmunya. Adapun ketika ia bergantung kepada orang lain, ilmu yang dimiliki akan kehilangan daya, sementara ia sendiri menyaksikannya,”

Peringatan tersebut memperlihatkan bahwa kecukupan material dapat menjadi salah satu penyangga kemerdekaan sikap keilmuan. Dengan kata lain, keberhasilan ekonomi pesantren dapat dibaca melalui kemampuannya menghidupi aktivitas pendidikan di satu sisi, sekaligus memperluas keleluasaan pesantren dalam menjaga prinsip-prinsipnya di sisi lain.

Di sinilah adagium “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” layak direnungkan kembali. Jauh sebelum bangsa ini merumuskan cita-cita Indonesia Emas, Kiai Hasyim Asy’ari telah memahami pentingnya merancang-bangun kekuatan ekonomi untuk menopang kesejahteraan bersama: sebuah ikhtiar yang mengingatkan bahwa pengabdian kepada negeri tidak saja diwujudkan melalui keberanian membelanya, tetapi juga melalui kesungguhan membangun daya hidup masyarakatnya.

Maka, menyongsong Indonesia Emas dari bilik pesantren adalah dengan memastikan bilik-bilik tempat santri ditempa memiliki pijakan yang kokoh untuk menjaga lentera ilmu terus menyala, serta melangsungkan pengabdian yang berkelanjutan. Sebab, untuk menguatkan negeri, pesantren juga harus mampu tegak berdiri di atas kaki sendiri.

Rujukan

Al-Mawardi. Adabud Dunya wad Din. t.t.: Dar al-Maktabah al-Hayah.

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin Jilid 6. Jeddah: Dar Ibn Al-Jauzi

Lathiful Khuluq, dkk. 2023. Ikhtisar Biografi Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 1871–1947. LTN PBNU.

Angki Rendra Maulana, dan Wisnu. 2024. “Nahdlatut Tujjar: Aktivitas Perdagangan Umat Islam Awal Abad ke-20 (1918–1926).” Avatara: E-Journal Pendidikan Sejarah, Vol. 15 No. 3

Kementerian Agama RI. 2026. “Ini Panduan Peringatan Hari Santri 2026, Cek Tema dan Rangkaian Kegiatannya.” https://kemenag.go.id/nasional/ini-panduan-peringatan-hari-santri-2026-cek-tema-dan-rangkaian-kegiatannya-VcGy9

Kementerian Agama RI. 2026. “Logo, Tema, dan Rangkaian Hari Santri 2026 Diluncurkan.” https://sulteng.kemenag.go.id/berita/8eel9/22-09-2026-logo-tema-dan-rangkaian-hari-santri-2026-diluncurkan-menag-momentum-pengingat-peran-ulama-dan-santri

Tinggalkan Balasan