Ada sebuah hadits Rasulullah, dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang mengisahkan tiga orang lelaki yang terjebak dalam situasi buntu, tanpa jalan keluar. Ketiganya berlindung di sebuah gua ketika sebuah batu besar tiba-tiba menggelinding dari gunung dan menutup rapat pintu masuknya. Mereka berusaha menggeser batu itu, tetapi tenaga mereka tak cukup untuk membukanya. Tak ada seorang pun yang datang memberikan pertolongan.
Dalam keadaan terdesak, mereka menyadari bahwa hanya Allah SWT yang mampu menyelamatkan mereka. Ketiganya kemudian bersepakat untuk berdoa kepada Allah dengan bertawasul melalui amal saleh yang pernah mereka lakukan semata-mata karena mengharap rida-Nya. Masing-masing menyebutkan satu kebaikan yang pernah dikerjakan dengan penuh keikhlasan, berharap amal tersebut menjadi jalan turunnya pertolongan Allah.

Baca Juga: Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, Dua Jalan Menuju Fikih Baru
Orang pertama mengingat baktinya kepada kedua orang tua. Ia bercerita bahwa dirinya tidak pernah memberikan minuman kepada keluarga maupun hamba sahayanya sebelum kedua orang tuanya. Suatu malam, ia pulang terlambat setelah mencari kayu. Kedua orang tuanya sudah tertidur, sementara ia telah menyiapkan susu untuk mereka. Ia tidak tega membangunkan keduanya, tetapi juga tidak ingin mendahulukan orang lain. Akhirnya, ia berdiri semalaman sambil memegang wadah susu, menunggu sampai kedua orang tuanya terbangun. Bahkan anak-anaknya sendiri menangis kelaparan di dekat kakinya.
Orang kedua mengingat peristiwa ketika ia hampir melakukan perbuatan zina dengan perempuan yang sangat dicintainya. Perempuan itu semula menolak, tetapi kemudian datang kepadanya karena kesulitan ekonomi. Ia memberinya 120 dinar dengan syarat perempuan tersebut bersedia memenuhi keinginannya. Ketika kesempatan itu sudah ada, perempuan itu mengingatkannya agar takut kepada Allah dan tidak merusak kehormatannya kecuali dengan cara yang dibenarkan. Ia pun mengurungkan niatnya, meninggalkan perempuan itu, serta tidak mengambil kembali uang yang telah diberikannya.
Sementara orang ketiga mengingat seorang pekerja yang pernah meninggalkan upahnya. Alih-alih mengambil atau mengabaikan hak tersebut, ia mengembangkan harta itu sampai bertambah banyak. Ketika pekerja tersebut datang kembali untuk meminta upahnya, ia menyerahkan seluruh hasil pengembangan harta itu, termasuk unta, sapi, kambing, dan hamba sahaya yang telah diperoleh dari pengembangannya. Ia tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya.
Ketiganya berdoa dengan menyebut amal masing-masing. Setiap doa membuat batu itu bergeser sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, setelah orang ketiga selesai berdoa, batu tersebut terbuka sepenuhnya. Mereka pun berhasil keluar dari gua.
