Tiga Amal Penyelamat: Kebaikan Membuka Jalan Pertolongan

Mungkin yang perlu kita garisbawahi adalah mengenai apa yang pernah dilakukan oleh ketiga orang tersebut. Yaitu persoalan bagaimana memperlakukan orang tua, mengendalikan keinginan diri, dan menjaga hak orang lain.

Baca Juga: Kiai Baidowi Gading dan Doa dari Langit

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keinginan untuk berbakti atau menyenangkan orang tua, kadang begitu banyak dinamika persoalan. Akhirnya, meskipun sudah ada tekad yang kuat, jadi tidak terlaksana. Mengaca pada kisah orang pertama, berbakti kepada orang tua tidak cukup dipahami sebagai kewajiban yang hanya diselesaikan dengan pemberian materi saja. Soal penghormatan, perhatian, dan sedia mendahulukan kepentingan mereka juga penting. Dan ini tentu lebih sulit dilakukan.

Hari-hari ini, orang hanya mengandalkan materi untuk dijadikan modal berbakti. Tapi ia tidak memiliki waktu untuk mendengarkan cerita orang tuanya, menemani ketika sakit, bahkan tidak sempat menemui di detik-detik usia terakhirnya. Di zaman yang menuntut banyak hal ini cukup sering membuat perhatian kepada orang tua tersisihkan. Dan tidak sedikit orang yang baru menyadari pentingnya kehadiran mereka setelah kesempatan untuk menemani sudah tidak tidak ada.

Maksudnya, tidak berarti seseorang harus mengabaikan kebutuhan anak dan keluarganya demi orang tua. Kita perlu refleksi tentang kesungguhan seorang anak dalam menghormati kedua orang tua. Kita bisa melihat atau merasakan bagaimana berartinya sebuah pengorbanan dengan ketulusan itu.

Kemudian tentang kemampuan mengendalikan diri kita ketika kesempatan melakukan kemaksiatan terbuka lebar. Ada perbedaan antara seseorang yang tidak melakukan dosa karena tidak memiliki kesempatan dan seseorang yang punya kesempatan, tetapi memilih berhenti karena takut kepada Allah. Seperti kisah pada orang yang kedua, ia memiliki keinginan, kesempatan, bahkan telah mengeluarkan sejumlah harta untuk mewujudkannya. Namun, ketika perempuan itu mengingatkannya kepada Allah, ia mengurungkan niatnya.

Bentuk godaan semacam itu bisa hadir dalam berbagai rupa. Mungkin ada orang yang memiliki kesempatan berselingkuh, menyalahgunakan kepercayaan orang lain, memanfaatkan keadaan seseorang yang sedang membutuhkan, atau melakukan sesuatu yang melanggar batas hanya karena merasa mampu.

Tinggalkan Balasan