Tiga Amal Penyelamat: Kebaikan Membuka Jalan Pertolongan

Ada sebuah hadits Rasulullah, dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang mengisahkan tiga orang lelaki yang terjebak dalam situasi buntu, tanpa jalan keluar. Ketiganya berlindung di sebuah gua ketika sebuah batu besar tiba-tiba menggelinding dari gunung dan menutup rapat pintu masuknya. Mereka berusaha menggeser batu itu, tetapi tenaga mereka tak cukup untuk membukanya. Tak ada seorang pun yang datang memberikan pertolongan.

Dalam keadaan terdesak, mereka menyadari bahwa hanya Allah SWT yang mampu menyelamatkan mereka. Ketiganya kemudian bersepakat untuk berdoa kepada Allah dengan bertawasul melalui amal saleh yang pernah mereka lakukan semata-mata karena mengharap rida-Nya. Masing-masing menyebutkan satu kebaikan yang pernah dikerjakan dengan penuh keikhlasan, berharap amal tersebut menjadi jalan turunnya pertolongan Allah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Baca Juga: Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, Dua Jalan Menuju Fikih Baru

Orang pertama mengingat baktinya kepada kedua orang tua. Ia bercerita bahwa dirinya tidak pernah memberikan minuman kepada keluarga maupun hamba sahayanya sebelum kedua orang tuanya. Suatu malam, ia pulang terlambat setelah mencari kayu. Kedua orang tuanya sudah tertidur, sementara ia telah menyiapkan susu untuk mereka. Ia tidak tega membangunkan keduanya, tetapi juga tidak ingin mendahulukan orang lain. Akhirnya, ia berdiri semalaman sambil memegang wadah susu, menunggu sampai kedua orang tuanya terbangun. Bahkan anak-anaknya sendiri menangis kelaparan di dekat kakinya.

Orang kedua mengingat peristiwa ketika ia hampir melakukan perbuatan zina dengan perempuan yang sangat dicintainya. Perempuan itu semula menolak, tetapi kemudian datang kepadanya karena kesulitan ekonomi. Ia memberinya 120 dinar dengan syarat perempuan tersebut bersedia memenuhi keinginannya. Ketika kesempatan itu sudah ada, perempuan itu mengingatkannya agar takut kepada Allah dan tidak merusak kehormatannya kecuali dengan cara yang dibenarkan. Ia pun mengurungkan niatnya, meninggalkan perempuan itu, serta tidak mengambil kembali uang yang telah diberikannya.

Sementara orang ketiga mengingat seorang pekerja yang pernah meninggalkan upahnya. Alih-alih mengambil atau mengabaikan hak tersebut, ia mengembangkan harta itu sampai bertambah banyak. Ketika pekerja tersebut datang kembali untuk meminta upahnya, ia menyerahkan seluruh hasil pengembangan harta itu, termasuk unta, sapi, kambing, dan hamba sahaya yang telah diperoleh dari pengembangannya. Ia tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya.

Ketiganya berdoa dengan menyebut amal masing-masing. Setiap doa membuat batu itu bergeser sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, setelah orang ketiga selesai berdoa, batu tersebut terbuka sepenuhnya. Mereka pun berhasil keluar dari gua.

Mungkin yang perlu kita garisbawahi adalah mengenai apa yang pernah dilakukan oleh ketiga orang tersebut. Yaitu persoalan bagaimana memperlakukan orang tua, mengendalikan keinginan diri, dan menjaga hak orang lain.

Baca Juga: Kiai Baidowi Gading dan Doa dari Langit

Keinginan untuk berbakti atau menyenangkan orang tua, kadang begitu banyak dinamika persoalan. Akhirnya, meskipun sudah ada tekad yang kuat, jadi tidak terlaksana. Mengaca pada kisah orang pertama, berbakti kepada orang tua tidak cukup dipahami sebagai kewajiban yang hanya diselesaikan dengan pemberian materi saja. Soal penghormatan, perhatian, dan sedia mendahulukan kepentingan mereka juga penting. Dan ini tentu lebih sulit dilakukan.

Hari-hari ini, orang hanya mengandalkan materi untuk dijadikan modal berbakti. Tapi ia tidak memiliki waktu untuk mendengarkan cerita orang tuanya, menemani ketika sakit, bahkan tidak sempat menemui di detik-detik usia terakhirnya. Di zaman yang menuntut banyak hal ini cukup sering membuat perhatian kepada orang tua tersisihkan. Dan tidak sedikit orang yang baru menyadari pentingnya kehadiran mereka setelah kesempatan untuk menemani sudah tidak tidak ada.

Maksudnya, tidak berarti seseorang harus mengabaikan kebutuhan anak dan keluarganya demi orang tua. Kita perlu refleksi tentang kesungguhan seorang anak dalam menghormati kedua orang tua. Kita bisa melihat atau merasakan bagaimana berartinya sebuah pengorbanan dengan ketulusan itu.

Kemudian tentang kemampuan mengendalikan diri kita ketika kesempatan melakukan kemaksiatan terbuka lebar. Ada perbedaan antara seseorang yang tidak melakukan dosa karena tidak memiliki kesempatan dan seseorang yang punya kesempatan, tetapi memilih berhenti karena takut kepada Allah. Seperti kisah pada orang yang kedua, ia memiliki keinginan, kesempatan, bahkan telah mengeluarkan sejumlah harta untuk mewujudkannya. Namun, ketika perempuan itu mengingatkannya kepada Allah, ia mengurungkan niatnya.

Bentuk godaan semacam itu bisa hadir dalam berbagai rupa. Mungkin ada orang yang memiliki kesempatan berselingkuh, menyalahgunakan kepercayaan orang lain, memanfaatkan keadaan seseorang yang sedang membutuhkan, atau melakukan sesuatu yang melanggar batas hanya karena merasa mampu.

Baca Juga: Jika Nabi Hadir di Tengah Indonesia Hari Ini

Seharusnya, sebagai orang yaang beriman, ketika sadar bahwa ada Allah yang mengetahui segala sesuatu, itu bisa jadi pencegah untuk melakukan perbuatan yang terlarang. Orang kedua dalam hadis tersebut mengajarkan tentang kekuatan moral seseorang yang terlihat ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang sebenarnya sangat diinginkannya.

Perempuan dalam kisah tersebut juga patut diperhatikan. Ia sedang berada dalam kesulitan ekonomi. Keadaan itu membuatnya menerima tawaran yang sebelumnya ia tolak. Namun, ketika laki-laki itu hendak melakukan hubungan badan dengannya, ia mengingatkan agar dirinya tidak melanggar ketentuan Allah. Jadi ini sebagai pengingat bagi kita semua bahwa kesulitan seseorang tidak boleh dijadikan kesempatan untuk dieksploitasi.

Kisah terakhir persoalan amanah dan kejujuran dalam urusan ekonomi. Di media sosial banyak para pekerja yang curhat bahwa mereka tidak menerima upah sebagaimana mestinya, gaji yang ditunda tanpa alasan jelas, hak karyawan yang dipotong secara sepihak, hingga keuntungan perusahaan yang dibangun melalui kerja keras orang-orang yang justru tidak memperoleh bagian secara layak. Ingat! Amanah juga bermakna: memastikan hak orang lain tetap terjaga, sekalipun pemilik hak itu tidak sedang berada di hadapan kita.

Doa yang dirapalkan oleh mereka bertiga:

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ

“Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata demi mengharapkan keridaan-Mu, maka berilah kami jalan keluar dari kesulitan yang sedang kami hadapi.” Makna dari doa tersebut, mereka sedang mengakui bahwa hanya Allah yang mengetahui ketulusan amal mereka. Ketiganya menjadikan amal sebagai wasilah untuk memohon pertolongan-Nya.

Hadis ini juga bisa menjadi dasar kebolehan bertawasul kepada Allah dengan amal saleh yang dilakukan sendiri. Para ulama membahasnya dalam persoalan at-tawassul bi al-a‘māl ash-shāliḥah. Artinya, seseorang boleh memohon kepada Allah dengan menyebut amal baik yang pernah dilakukannya sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya.

Baca Juga: Kritik Muhammad al-Ghazali Terhadap Hadis Kepemimpinan Perempuan

Kita tidak pernah tahu kesulitan seperti apa yang akan datang dalam kehidupan. Kita juga tidak tahu amal mana yang kelak menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Jadi, selama masih memiliki kesempatan, berbuat baiklah kepada orang tua, jaga diri dari kemaksiatan, dan jangan pernah merampas hak orang lain.

Tinggalkan Balasan