Saya tidak ada rencana mengikuti acara sastra untuk tenggang waktu yang berdekatan. Sebab, sebelumnya saya baru selesai melakukan riset dan kegiatan literasi di Kampung Adat Malajalaya, Kuningan, Jawa Barat, bersama Penyair Perempuan Indonesia (PPI) akhir Juli- Agustus 2026. Bahkan, ketika antologi riset dan literasi berjudul Nyukcruk tersebut diluncurkan di Balai Bahasa Jawa Barat, Sabtu, 17 Oktober 2026, saya tidak sempat menghadirinya. Jadwal saya juga masih sangat padat di sekolah dan beberapa kelas pembimbingan karya ilmiah belum tuntas saya lakukan di lembaga tempat saya mengabdi.
Namun, dua hari setelah peluncuran antologi Nyukcruk dan semua pekerjaan selesai, saya menerima telepon dari sastrawan Mahwi Air Tawar. Ia mengundang saya untuk turut membaca puisi di Puncak Fetival Dunia Santri 2026. Acara itu digelar di Gedung Makara Art Center Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Mungkin benar apa yang selalu dikatakan Mukhlisin, ketua jejaring duniasantri; bahwa kebanyakan peristiwa, termasuk narasumber yang menghadiri berbagai event duniasantri, tanpa disadari terseleksi secara alamiah. Ucapan itu benar-benar terjadi atas hidupku.
Saat Mahwai Air Tawar menelepon, saya belum yakin akan menghadiri Puncak Festival Dunia Santri itu. Alasan terbesarnya, surat resmi dari panitia belum saya terima sehingga saya belum bisa mengurus izin tugas dari lembagga saya bekerja. Selain itu, waktunya sudah sangat mepet. Padahal banyak hal yang harus saya lakukan, termasuk mengurus dan mengecek tiket pesawat yang belakangan sangat mencekik. Bahkan, terkadang sulit mendapat tiket pesawat pulang pergi jika saya memesannya mendadak. Belum lagi beberapa tugas kelas yang harus saya tinggalkan. Ada kemungkinan saya akan berhalangan masuk kelas di hari Senin, 26 Oktober 2026.
Masih ada masalah lain. Saya juga harus mengurus dan memastikan ujian mahasiswa PLP titipan Undana yang menjadi bimbingan saya agar tidak berlangsung pada tanggal yang sama. Dan, sebagai guru pamong, saya juga harus meninggalkan beberapa penugasan pembimbingan untuk para mahasiwa PLP yang saya bimbing.
Hal lain lagi, saya juga harus memastikan tiket pesawat Kupang-Jakarta di hari Jumat usai jam sekolah, sebab saya sedang bertugas sebaga fasilitator projek kokurikuler setiap hari Jumat.
Maka, betapa sulit dan mustahilnya impian saya untuk bisa ikut memeriahkan Festival Dunia Santri itu dalam waktu yang tersisa cuma tiga hari. Itupun dikurangi hari Sabtu yang merupakan hari libur akhir pekan yang tidak memungkinan beberap urusan dinas akan berjalan lancar.
Dan… alam benar benar telah melakukan seleksi. Di saat saya hampir melupakan undangan duniasantri tersebut, tiba-tiba, kakak saya, penyair berdarah Aceh, Deknong Kemalawati, yang kini telah menetap di Jakarta, mengirmkan pesan WA saat saya sedang di kelas. Saat keluar main saya membukanya, teryata sebuah flayer berisi foto dan informasi terkait tujuh orang penyair lintas iman yang diundang membaca puisi di Puncak Festiva Dunia Santri. Foto saya juga ada terpampang di sana. Juga sebuah catatan dari Kak Deknong yang berharap saya bisa menghadiri kegiatan dimaksud.
Entah mengapa, hati saya tiba-tiba bergetar. Saya merasakan dengan sangat dalam, betapa undangan ini bukan semata sebagai sebuah ajang kegilaan berpuisi, namun sebuah penghargaan duniasantri tentang betapa pentingnya moderasi beragama.
Dengan pemahaman seperti itu, saya menjadi sangat terharu dan berkata pada diri saya, bahwa jika dizinkan Allah, saya pasti akan menjadi bagian dari kegiatan yang sangat bermartabat tersebut. Atas restu Tuhan, saya akan menjadi bagian dari perjalanan duniasantri, dan itu dimulai dari sebuah Festival yang telah memperlihatkan moderasi beragama di mana para penyair lintas agama diberi kesempatan membaca puisi di panggung Festival Dunia Santri 2026.
