Saya meletakkan ponsel saya dan mulai membenahi banyak hal terkait sekolah dan mahasiswa bimbingan saya, jika seandainya saya tinggalkan mereka dalam waktu dekat. Aneh, semua persiapan lancar jaya hari itu juga. Saya mengambil ponsel saya dan menelepon travel agen langganan saya untuk meminta mereka menyiapkan tiket pulang-pergi tanggal 24 dan 26 Oktober 2026. Juga pancar jaya.
Harga tiket Kupang-Jakarta memang masih melangit. Namun segala urusan rencana pergi dan pulangnya, lancar jaya. Jarang saya mendapatkan tiket sesuai keinginan dan jadwal saya. Namun hari itu saya dapat menyelesaikan semua urusan lebih cepat dari yang saya pikirkan dan doakan.

Keesokan harinya, surat panitia telah tiba di tangan dan saya mengurus semua urusan izin tugas. Saya menemui langsung pimpinan saya dan mengajukan izin. Dan tanpa berbelit-belit urusan izin pun lancar jaya. Saya segera menghadap kepala tata usaha untuk stafnya mengetik surat izin agar diteken kepala sekolah. Lancar jaya.
Subuh harinya saya melakukan sujud saat teduh di kamar saya, dan saya bersyukur serta mengatakan bahwa jika Allah merestuinya, maka saya akan pergi dan menjadi bagian dari bersedekah ilmu dan berpuisi dalam panggung Festival tersebut. Kedatangan dan kehadiran saya bukan sekadar kegilaan berpuisi, namun ada rencana besar Tuhan atas hidup saya melalui ajang Festival tersebut.
Saya pun tiba di Jakarta untuk penerbangan pertama. Setiba di Bandara Soekarno-Hatta, saya hendak naik bus menuju Depok. Nah, berhubung saya tidak terbiasa naik bus di Jakarta, maka telah terjadi “drama kecil”yang harus saya selesaikan secara teknis. Saya pun mengontak Mujizat, anak sulung saya yang bekerja di Jakarta, dan memintanya menemani saya naik bus menuju Depok.
Saat saya mengontaknya, saya meragukan harapan saya itu lantaran Mujizat sangat sibuk. Saya juga sering kesulitan bertemu dengannya jika saya ke Jakarta di waktu-waktu yang sibuk jam kerja. Namun hari itu, ternyata Mujizat telah menyediakan waktu khusus untuk menjemput saya di bandara dan mendampingi saya naik bus hingga di terminal Depok.
Kami tiba di terminal Depok dengan berbekal pengalaman sangat menyenangkan, aman, dan nyaman naik bus Bandara-Depok. Tampak ketua jejaring duniasantri, Mukhlisin, telah beriri di terminal menjemput kami. Setelah makan siang dan bediskusi, kami melanjutkan ke Makara Art Center untuk persiapan atau gladi resik. Saya baru menyadari bahwa saya berada di Festival tersebut benar-benar karena seleksi alam.
Menginap di Rumah Inklusi
Saya menginap di rumah inklusi, rumah yang juga menjadi markasnya duniasantri di Depok. Di rumah tersebut saya diberi sebuah kamar di lantai dua. Kamar saya itu menyenangkan karena saya ditemani dan didampingi oleh dua orang santri yang luar biasa hebat. Mereka “mengurus” dan memerhatikan saya dengan sangat baik. Yang satu Nina Fitri Zahira, sekretaris panitia dan juga seorang mahasiswi PGSD yang tinggal di Depok. Yang lainnya adalah Sayyida, mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia gadis asal Sukabumi dan indekos di Ciputat untuk kelancaran kuliah. Keduanya calon guru masa depan. Mereka berdua anak muda yang santun dan memiliki ketulusan hati yang murni. Sejak pandagan pertama, hati saya sudah langsung “klik” dengan mereka.
Santri Nina dan Sayyida harus membagi waktu antara pekerjaan panitia dan menemani saya di rumah inklusi sebelum dan sesudah kegiatan. Bahkan kami bertiga tidur sekamar. Sebagai panitia, selama kegiatan, Nina sangat bertanggung jawab dalam tugas sebagai serkretaris panitia dan kerja sama tim untuk semua tugas administrasi selama Festival.
