Tanah Samping Musala

Suara bebek-bebek Pak Rahmat menebar masuk ke setiap celah-celah rumah sekitar jalan yang menuju sawah. Pak Rahmat membawa tongkat bambu dengan kain berbentuk pita di ujung tongkat. Pak Rahmat menggiring bebek-bebeknya memasuki sawah bekas tanaman padi. Sudah tiga bulan ia mencoba peruntungan beternak bebek. Tiga bulan lalu jumlah bebeknya cuma delapan ekor. Sekarang sudah seratus lebih.

Pak Rahmat memang bertangan dingin. Sebelumnya, ia bekerja pada Pak Haji Romli sebagai pengurus ternak dan sawahnya. Semua ternak dan sawah yang digarapnya pasti berhasil. Baru tiga bulan ini Pak Rahmat memutuskan untuk mundur guna mencoba peruntungan baru sebagai peternak bebek.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kenapa kamu tidak mau bekerja lagi kepadaku? Apa kamu ingin minta naik upah?”

“Bukan masalah itu Pak Haji. Upah sudah lebih dari cukup. Saya sudah bisa merenovasi rumah dan menabung dari upah yang Bapak berikan. Istri saya ingin saya lebih punya waktu luang untuknya.”

“Lantas kamu mau bekerja apa, Pak Mat?”

“Kami berencana beternak kecil-kecilan dan melanjutkan usaha kebun sayur lahan belakang rumah.”

“Baiklah, kalau kamu butuh pekerjaan sebagai mandor. Kamu boleh datang lagi ke sini.”

Pak Rahmat menjabat tangan Pak Haji, kakinya diayunkan melangkah pulang.

***

Suara adzan salat Jumat memanggil para mutaqin mengisi masjid. Kali ini Pak Rahmat datang terlambat karena ada enam ekor bebek yang masih tertinggal di sawah. Pekerjaan awal sebagai peternak bebek membuatnya belum mahir menggiring bebek-bebek pulang ke rumah. Ketika Pak Rahmat sampai di masjid ternyata khutbah Jumat akan berakhir.

“Yang terakhir, membangun masjid ikhlas karena Allah. Rasul Saw bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.

Demikianlah khutbah ini, semoga Allah menolong kita untuk melakukan berbagai amal ibadah di atas dan juga amal ibadah lainnya, agar rumah dan istana impian kita di surga dapat terwujud. Dan semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para sidiqin, syuhadak, dan salihin sebagaiman Allah himpun kita di siang hari ini. Allahumma amin…

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ……”

Seusai salat Jumat, Pak Rahmat berjanji akan melaksanakan perintah Allah yang telah disampaikan dalam khutbah hari ini sebagai tebusan karena datang terlambat. Seumur hidup, baru kali ini Pak Rahmat datang terlambat. Sebagai rasa penyesalannya dia berjanji jika akan menyisihkan uang kala sempit atau pun lapang.

***

Seribu lebih ekor bebek yang ada di pekarangan yang bekeliaran di belakang rumah mengeleter. Seakan mereka ingin dilepaskan dari kandang. Digembala di lumpur di rawa-rawa dekat sungai. Geleter bebek tidak digubris oleh Pak Rahmat karena panggilan ilahi mulai bersuara.

“Bu, bangunkan Toriq. Sebentar lagi iqamat.”

“Baik Pak, nanti sarapan apa?”

“Alah, sekenanya. Setiap masakanmu pasti terenak yang pernah kutemui.”

“Ah, masa?” sahut Umi yang tering senyum.

“Bener Bu. Kapan aku suka makan di warung?”

Senyum Umi semakin lebar. Dilangkahkan kakinya menuju kamar Toriq. Kemudian ia menepuk-nepuk bahu Toriq.

“Riq, bangun, ayahmu menunggumu untuk berjamaah di musala.”

Tinggalkan Balasan