Tanah Samping Musala

“Iya Bu.”

Toriq membuka matanya. Ia mengumpulkan kesadarannya. Kemudian Umi keluar, melanjutkan membalik tempe yang digorengnya tadi. Tak berselang lama Toriq keluar kamar dengan memakai sarung dan kopyah coklatnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah semua siap, mereka berdua menuju ke Musala Al-Mudzakir, sebuah musala kecil yang berjarak seratus meteran sebelah barat rumah.

“Nanti kamu pulang dulu saja, Riq. Terus kamu bawa bebek-bebek ke rawa pinggir sungai.”

“Bapak tidak membantu saya?”

“Aku masih ada perlu sama Mbah Usup. Setelah sampai di rawa tunggu sampai jam 5.30 ya? Jika aku belum datang, kamu tinggal saja.”

“Baik Pak.”

Ketika sampai di musala, mereka pun bersalaman dengan orang-orang. Setelah itu, mereka menjalankan salat qobliah subuh. Setelah dirasa para jamaah lengkap dan siap, Mbah Usup memberi sebuah tepukan, yang menandakan bahwa salat subuh siap didirikan.

Usai menunaikan salat subuh, Pak Rahmat sengaja tidak pulang. Ia berniat membicarakan tentang tanah Pak Sarjan yang terletak di sebelah timur Musala Al-Mudzakir.

“Assalamuaikum Mbah!”

“Waalaikumsalam, Pak Mat. Bagaimana kabar Bapak?”

“Alhamdulillah Baik Mbah. Mbah juga sehat?”

“Alhamdulillah. Mari masuk ke rumah dulu. Kelihatannya ingin mengobrol peting”

“Ya Mbah.”

Mbah Usup menuju rumah yang berdempet dengan musala. Dibukalah pintu depan rumah, kemudian menuju ke bagian belakang rumah.

“Mbah Tri, buatkan kopi untuk Pak Ramat.”

“Ya, Mbah Kung,” jawab istri Mbah Usup.

“Tidak perlu repot Mbah Sup. Saya ke sini cuma sebentar, tidak ingin merepotkan Mbah Rof.”

“Tidak repot, biasanya saya jam segini juga ngopi. Ada perlu apa kelihatannya penting sekali, sampai-sampai meninggalkan pekerjaan mengangon bebek.”

“Begini Mbah, minggu lalu, para jamaah rutinan tahlil berencana memperluas Musala Al-Mudzakir. Saya melihat murid mengaji juga berkeliling untuk mengumpulkan infak. Apa sudah cukup dananya?”

Mbah Usup berjongkok mencari-cari rekapan infak yang sudah dikumpulkan selama seminggu. Mbah Rof datang membawakan kopi dan tahu goring, lalu diletakkan di meja kayu berpelitur coklat.

“Monggo diminum dulu kopinya, Pak!”

“Inggih Mbah.”

Mbah Usup menarik sebuah buku tulis lalu diletakan di meja. Tangannya meraih gelas kopi.

“Ayo diminum Pak,” dituanglah kopi ke atas lapik, dan Pak Rahmat pun mengikutinya. Senyampang menunggu dingin tangangnya meraih kacamata.

Tinggalkan Balasan