Sang Orientalis

Saya pernah mengira magnum opus Edward W Said, Orientalism, segera usang dan akan menjadi buku sejarah. Orientalism akan tersuruk di sebuah pojok masa lalu kita, ketika zaman telah dan terus berubah oleh revolusi demi revolusi, hingga apa yang kini kita sebut sebagai revolusi industri 4.0.

Ternyata saya salah. Orientalis dan orientalisme tak pernah mati.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apa yang ditelanjangi Edward W Said melalui Orientalism, nyaris sendirian dan hampir sepanjang hidupnya sebagai seorang imigran dalam pengertiannya yang kompleks, adalah memang masa lalu. Masa ketika jarak yang membentang antara apa yang disebut Timur dan Barat benar-benar jauh, baik secara geografis maupun etnografis.

Begitu jauhnya jarak yang membentang itu, hingga untuk mengenal satu dari yang lain, the others, Barat mengenal Timur, hanya bisa dilakukan melalui imajinasi. Maka, sepenuhnya orientalisme dibangun di atas fondasi imajinasi itu. Pun, ketika akhirnya orang-orang Barat untuk kali pertama bisa menjejakkan telapak kaki di tanah-tanah terjal yang ada di Timur, mereka masih membawa serta imajinasi itu.

One Reply to “Sang Orientalis”

Tinggalkan Balasan