Sang Orientalis

Mereka ini, yang kemudian disebut sang orientalis, mendefinisikan Timur berdasarkan imajinasi itu, dalam beragam catatan dan buku dari berbagai genre. Dan mereka menyebutnya sebagai karya ilmiah. Berdasarkan imajinasi itu pula, Timur akhirnya diposisikan sebagai objek kajian, dikonstruksi sebagai dunia lain yang primitif dan eksotis. Timur adalah “harta karun” yang ditemukan oleh Barat.

Orientalisme kemudian membuka pintu bagi masuknya kolonialisme. Itu terjadi, baik dengan cara persuasi maupun koersi, setelah Timur menerima definisi atas dirinya seperti yang dikonstruksi atau diimajinasikan Barat. Dengan cara itulah Timur “menerima” kehadiran Barat melalui kolonialisme.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi, sekali lagi, yang ditelanjangi Edward W Said itu adalah abad-abad lampau, ketika jarak geografis maupun etnografis Timur dan Barat membentang begitu jauh, begitu nyata. Karena itu, ketika revolusi demi revolusi terus terjadi, ketika seisi dunia tak lagi berjarak, ketika era digital dihuni oleh generasi milenial, orientalisme sebagai cara berpikir Barat dalam memandang Timur semestinya telah usang. Telah mati dikubur dalam-dalam.

Namun, apa yang ditunjukkan Majalah Charlie Hebdo dan Presiden Prancis Emmanuel Macron membuktikan bahwa orientalis dan orientalisme ternyata tak pernah mati. Keduanya berdiri mewakili orientalisme dari masa lalu, meskipun sudah hidup di era digital yang dihuni generasi milenial. Mereka masih seperti sang orientalis dan produk orientalisme. Mereka masih memandang Timur, dan Islam sebagai salah satu representasinya, sesuai dengan yang mereka imajinasikan.

One Reply to “Sang Orientalis”

Tinggalkan Balasan