Mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad dalam Majalah Charlie Hebdo adalah sebuah pengulangan dari penerbitan catatan dan buku-buku yang dibuat oleh para orientalis dari abad ke-15 hingga abad ke-20. Mendefinisikan Islam sesuai dengan apa yang diimajinasikan adalah cara berpikir para orientalis dari masa lalu.
Charlie Hebdo dan Macron, sebagai representasi Barat masa kini, rupanya belum bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu. Masa yang dari sudut pandang generasi milenial akan dianggap sebagai primitif. Namun, akan sama primitifnya jika respons yang diberikan oleh Timur ternyata sama persis seperti yang dikonstruksi dalam orientalisme: bahwa Timur adalah yang menyukai budaya kekerasan nan bengis.

Keduanya menunjukkan bahwa dunia boleh berubah, namun cara berpikir manusia ternyata belum berubah.

Semesta berzikir dalam kontradiksi Charlie Hebdo, dalam riak gerak anarkhisme (dalam segala aspek terjemahnya).