Kisah ini saya dengar langsung dari KH Tsabit Khozin. Selagi Beliau masih muda, sekitar umur 20-an atau lebih sedikit, persaingan ilmu kanoragan atau ilmu kejunelan (kekebalan?) begitu marak dipelajari oleh kalangan terbatas. Termasuk kalangan terbatas adalah KH Tsabit Khazin dan KH A Warits Ilyas. Kedua kiai muda ini mempelajari ilmu kanoragan untuk menjaga diri atau benteng diri sendiri.
Sebagai pemuda, darah mudanya ingin menunjukkan eksistensi diri. Menasbihkan diri bahwa mereka berdua (KH Tsabit Khozin dan KH Warits Ilyas) memiliki keilmuan lain dari yang lain. Eksistensi diri menyebabkan antara Kiai Tsabit (sebagaimana yang Beliau sampaikan sendiri kepada saya) dan Kiai Warits terjadi persaingan dalam ilmu kanoragan. Ilmu bela diri dengan segala kelebihan dan keunggulannya. Persaingan adu ilmu kanoragan hingga menyebabkan perseteruan untuk menunjukkan siapa yang unggul di antara Beliau berdua.

Suatu ketika, perseteruan sudah sangat memuncak. Di antara ilmu kanoragan yang dimiliki Kiai Tsabit adalah bulu kulit lengannya bisa berubah menjadi duri yang tajam yang, jika dihantamkan ke musuh, akan menyebabkan petaka. Tentu saja hal ini akan terjadi jika musuh tidak punya ilmu kanoragan lainnya sebagai bentuk perlawanan.
