Kitab Serat Puspa

Serat Puspa, Manuskrip Tauhid dari Sumenep

Konon, Serat Puspa ditulis oleh Al-Imam al-Ajal al-Zahid Abu-l-laisy Muhammad as-Samarqandi. Menelusuri biografinya agak sulit karena tidak tertulis atau terdokumentasi di dalam kitab Serat Puspa ini.

Namun, menurut penuturan Kiai Sutra’, al-Ajal al-Zahid merupakan salah satu tokoh tasawuf penganut Imam al-Ghazali. Di bidang tauhid, ia penganut Imam Asy’ari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang kita tahu, manuskrip ini ditulis ulang oleh Syekh Muhammad. Syekh Muhammad merupakan tokoh langgar (Kajih, istilah lain dikenal dengan tokoh masyarakat) dari Desa Poreh, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Selain itu, Syekh Muhammad menjadi salah satu pendiri samman di desanya. Di masanya, samman adalah kompolan unggulan masyarakat Poreh.

Tidak ada informasi yang pasti tentang kelahirannya. Cuma, menurut pemegang kitab Serat Puspa, Syekh Muhammad lahir di Desa Poreh sekitar abad ke-18. Namun, sampai saat detik ini tidak tersedia data valid untuk mengungkap profilnya. Menurut sebagian informasi, semasa hidup, Syekh Muhammad menekuni bidang tauhid dan tasawuf.

Berdasarkan keterangan KH Sutra’, Serat Puspa merupakan kitab unggulan masyarakat Poreh. Kitab ini sebenarnya pernah menjadi rebutan di antara saudara Kiai Sutra’. Akan tetapi, setelah melalui proses panjang, KH Sutra’ yang “diijazahkan” langsung oleh H Hasyim Islam untuk mewarisi kitab ini.

H Hasyim Islam merupakan tokoh masyarakat yang tidak mempunyai keturunan. Ia kemudian mengasuh dua anak saudaranya yang bernama Syam dan Muna. Suatu saat, Kiai Sutra’ tertarik dan kemudian meminang Muna. Pinangan itu dikabulkan H Hasyim, dan dilangsungkan pernikahan antara Kiai Sutra’ dengan Muna. Itu terjadi pada 1840-an.

Pasangan Kiai Sutra’-Muna ini kemudian memiliki dua putra, Sutahir dan Sutra’. Namun, yang berumur panjang hanyalah Sutahir.

Kitab ini berada di tangan H Hasyim Islam sekitar 100 tahun. Dengan rincian matematis, yang pertama dilihat dari segi umur, H Hasyim Islam berusia sekitar 125 tahun. Kedua dilihat dari pasca meninggalnya H Hasyim Islam, berkisar 35 tahunan yang lalu. Sementara sebelum diwariskan kepada Kiai Sutra’, ada tiga generasi, namun hanya pada generasi ketiga diketahui keberadaannya, yakni saat dipegang oleh H Hasyim Islam.

Tinggalkan Balasan