Pernyataan ini menunjukkan kehati-hatian ulama memberi penafsiran terhadap ayat yang masih mutashabihat. Atau, dengan bahasa lain untuk menghindari kekeliruan yang fatal dalam menafsirkan ayat.
Meskipun, ada juga sebagian ulama tafsir yang memberanikan diri untuk menafsiri kalimat huruf tersebut. Tapi kami lebih sepakat terhadap pendapat mayoritas ulama. Dengan beberapa alasan: yang pertama, karena nihilnya keilmuan, karena kurangnya mengasah hati dengan zikir, akal dengan berpikir.

Bagaimana dengan pengawalan kalimat huruf ”الم” di dalam kitab ini, tentunya ini adalah sebuah ambigu bagi kita, terutama di kalangan awam untuk memberikan tafsir. Sementara, bagi ulama khas, mereka bisa menyelami rahasia makna yang terkandung di dalamnya.
Ini hanya sebagian isi dari kitab Serat Puspa, sedangkan pada lembaran-lembaran berikutnya tidak dapat dipahaminya karena berbagai faktor. Di antaranya, karena lusuhnya kitab, tidak lengkapnya kurasan kitab.
Namun, intinya ini merupakan kitab tauhid yang menjadi pegangan kaum muslimin dalam menyelamatkan hatinya dari kekufuran. Di kitab ini ada sebagian perkataan ulama yang dikutip seperti ini: “Bahwa belajar tentang keimana merupakan awal dari semua pembelajaran yang harus diketahui.”
Hanya sebatas ini saja yang penulis temukan di kitab Serat Puspa, disebabkan banyaknya lembaran yang tidak ada.
Kitab Serat Puspa ini kini menjadi “harta pusaka” KH Sutra. Beliau termasuk orang yang dikenal saleh, selalu gotong royong, dan pemurah. Bahkan, di desanya beliau dijadikan rujukan permasalahan hukum, juga perobatan. Doanya dikenal mustajab (mantih do’anah).
Pemilik kitab ini bukan orang sembarangan. Meskipun beliau layaknya seperti orang-orang biasa, akan tetapi dibalik itu ada mutiara yang terpendam.
