Pada generasi pertama dan kedua, Kiai Sutra’ tidak mengetahui namanya, karena tidak ada keturunan yang dapat dijadikan informan. Akan tetapi, menurut perkiraannya, antara generasi pertama dan kedua berkisar 250 tahunan. Bentuk utuh kitab ini, menurut Kiai Sutra’, ada pada generasi pertama dan kedua.
Ketidaklengkapan kitab ini diketahui setelah Kiai Sutra’ pindah dari Dusun Sarpereng ke Dusun Laok Songai. Kitab ini ditemukan di lemari yang rusak. Sebenarnya kitab kuno peninggalan H Hasyim Islam cukup banyak. Namun, saat pindah rumah, banyak barang antik yang hilang, bahkan kitabnya banyak yang tak terselamatkan.

Dalam bentuk utuhnya, Serat Puspa terdiri dari sekitar 300-an lembar. Hanya tersisa 14 lembar. Ketidaklengkapan ini bukan karena kelalaian, akan tetapi secara alamiah. Banyak kertasnya yang dimakan rayap.
Kitab ini ditulis dalam bentuk prosa menggunakan bahasa Arab. Sebagai prosa, Serat Puspa ditulis dalam gaya bahasa sederhana, meskipun materi yang dibahas cukup berat. Pada bagian awal, misalnya, kitab ini dimulai dengan pertanyaan tentang hakikat iman “مالايمان”. Dimulai dengan lontaran pertanyaan “Bagaimana beriman kepada qadadan qadar Allah.
Ulasan dari pertanyaan tentang hakikat keimanan merupakan persoalan yang mendasar, namun mengandung faedah yang luar biasa. Bahkan di dalam kitab tersebut juga dikuatkan dari berbagai hadis Nabi sebagai landasan utama sebagai pendukung pendapatnya.
Misalnya, dalam soal hakikat keimanan. Abul Lais As-Samarqandi menyelipkan hadis yang di riwayatkan oleh Imam Muslim Sayyidina Umar dari Hadis Jibril. Sedangkan, dari jalur Bukhari melalui Abu Hurairoh, salah satu sahabat Nabi yang paling banyak hafal hadis. Juga dengan matan yang sama. Dengan arti, “Saya beriman kepada Allah, malaikat, Rasul-rasulnya, hari Ba’ats”; dengan makna saya membenarkan adanya Allah, Sifat-sifat-Nya yang wajib, dan dengan adanya malaikat bahwa para malaikat adalah termasuk hamba yang dimuliakan oleh Allah.
Lebih lanjut, di dalam kitab tersebut juga disuguhkan beberapa komentar ulama. Bahwa sebagian ulama berkata, “Seseorang yang belajar mulai waktu kecil tentang hakikat keimanan, maka akan mendapatkan keimanan yang sempurna.”
Di dalam Serat Puspa juga terdapat beberapa pendapat ulama yang menjadi perbandingan dari pendapat yang pertama. Misalnya, ada rujukan, “Bahwa seseorang yang menyatakan keimanan ketika maut menghampirinya, di mana pada waktu itu manusia sudah diperlihatkan tempatnya (neraka atau surga), maka imannya tidak akan terima.”
Yang menarik, di dalam kitab ini juga terdapat kutipan Naskah Macopat Maduratna. Pada halaman pertama diawali dengan kata-kata “الم; “setiap ayat al-Quran yang didahului oleh huruf hijaiyah, maka mayoritas ulama tafsir menyatakan dengan kalimat “الله اعلم بمراده”, Allah yang mengetahui maksudnya.
